UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM DALAM POKOK BAHASAN G 30 SPKI PADA SISWA KELAS XII IPA 2 DI SMA LEUWIMUNDING TAHUN AJARAN 2012-2013

Published July 5, 2013 by nilamarifani

 

 

 

 

 

 

 

PROPOSAL PTK

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM DALAM POKOK BAHASAN

G 30 SPKI PADA SISWA KELAS XII IPA 2 DI SMA LEUWIMUNDING TAHUN AJARAN

2012-2013

 

Di susun sebagai tugas mata pelajaran Pengembangan Inovasi

Pembelajaran Sejarah

Dosen pengampu : Arif Purnomo, S.Pd., S.S., M.Pd.

 

 

Oleh:

                

Nilam Arifani

3101411132

 

 

 

 

 

JURUSAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang

Pendidikan adalah suatu interaksi manusia antara pendidik atau guru dengan anak didik atau siswa yang dapat menunjang pengembangan manusia seutuhnya yang berorientasi pada nilai-nilai dan pelestarian serta pengembangan kebudayaan yang berhubungan dengan usaha-usaha pengembangan manusia tersebut. Pendidikan dipandang sebagai salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, yaitu melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja terdidik. Disamping itu pendidikan dipandang mempunyai peranan penting dalam menjamin perkembangan dan kelangsungan bangsa. Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal, yaitu : kualitas proses dan produk (Sudjana, 2004:35). Pendidikan dikatakan berkualitas apabila terjadi penyelenggaraan pembelajaran yang efektif dan efisien dengan melibatkan semua komponen-komponen pendidikan, seperti mencakup tujuan pengajaran, guru dan peserta didik, bahan pelajaran, strategi atau  metode belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran serta evaluasi (Sugito, 1994:3).

Namun,  untuk menciptakan pendidikan  yang efektif sangat sulit. Salah satu masalah yang mendasar dalam dunia pendidikan adalah bagaimana usaha untuk meningkatkan proses belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang efektif dan efisien, tidak terkecuali pada pelajaran sejarah. Ada yang menyatakan bahwa memberikan pelajaran sejarah merupakan sesuatu yang tidak masuk akal atau tidak mungkin sama sekali, karena pelajaran sejarah bukan sebagai dasar ilmu pengetahuan, bahkan sangat mengaburkan konsep dan prinsip sejarah. Padahal bangsa manapun di dunia, tidak pernah ada suatu bangsa yang melupakan sejarah bangsanya, asal-usul dan perjuangan mereka untuk hidup dan merdeka, karena sejarah merupakan satu bagian dari kelompok ilmu yang berdiri sendiri. Tujuan yang luhur dari sejarah adalah menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air bangsa dan negara, serta pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antarbangsa dan negara, sehingga anak memahami bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat negara di dunia.(Kasmadi,1996:13).

Dalam proses pembelajaran sejarah di kelas XII IPA 2 misalnya, diketahui  minat siswa dalam belajar sejarah justru sangat rendah dan lebih banyak membuat siswa menjadi bosan. Hal ini terlihat dari aktivitas siswa selama KBM, siswa banyak yang bercerita sendiri dengan temanya dan ada siswa yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain sewktu gurunya menerangkan. Penyediaan buku-buku pelajaran sejarah yang selama ini ternyata kurang efektif, karena lebih bersifat memberikan materi instan tentang fakta sejarah kepada para siswa daripada memberikan daya kreatif siswa untuk memahami sebuah peristiwa sejarah. Penulis buku tidak memberikan ruang berfikir kepada siswa tentang bagaimana sebuah fakta sejarah muncul, dan narasi sejarah disajikan. Akibatnya siswa tidak dapat terlarut dalam sebuah narasi sejarah, sehingga siswa bosan membaca teks sejarah di sekolah. Siswa juga jarang untuk diajak berdialog tentang bagaimana sebuah karya sejarah dalam periode tertentu muncul. Untuk itu, pengajaran sejarah yang hendak mewujudkan inti dan tujuanya maka perlu di buat menarik. Pengembangan daya tarik pelajaran sejarah terutama pada pendidik sejarah, sebab di tangan pendidik sejarah akan tampak jiwa sejarah itu.

Film dapat membantu dalam proses pembelajaran, apa yang terpandang oleh mata dan terdengar oleh telinga, lebih cepat dan lebih mudah diingat daripada apa yang hanya dapat dibaca saja atau hanya didengar saja. ada awalnya, film atau gambar hidup ini hanya berupa serangkaian gambar diam yang diletakkan rapat-rapat ditunjukkan berganti-ganti dengan kecepatan tinggi, orang yang melihatnya akan mengalami ilusi seolah-olah terdapat gerakan. Pada perkembangan selanjutnya, William Friese Greene dan Thomas Alva Edison menciptakan kamera pertama yang secara khusus didesain untuk merekam film gambar hidup (disebut kinetograph). Saat ini dengan berkembangnya teknologi, peralatan film sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk memberikan solusi bagaiamana upaya meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran sejarah. Untuk itu penulis menggambil judul “UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA FILM DALAM POKOK BAHASAN G 30 SPKI PADA SISWA KELAS XII IPA 2 DI SMA LEUWIMUNDING TAHUN AJARAN 2012-2013”.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah :

  1. Apakah yang menyebabkan siswa kurang berminat dengan pembelajaran sejarah ?
  2.  Bagaimana apresiasi siswa terhadap pembelajaran sejarah dengan menggunankan media film pada pokok bahasan G30 Spki ?
  3. Bagaimana minat siswa dalam pembelajaran sejarah setelah menggunakan media film?

 

 

  1. C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan :

  1. Untuk mengetahui penyebab siswa kurang berminat dengan pembelajaran sejarah.
  2. Untuk mengetahui apresiasi siswa terhadap pembelajaran sejarah dengan menggunakan media film pada pokok bahasan G30 Spki 3. 
  3. Untuk mengetahui minat siswa dalam pembelajaran sejarah setelah menggunakan media film.

 

D. Manfaat Penelitian

a.  Manfaat teoritis

Mengembangkan pengetahuan tentang pemanfaatan media pembelajaran berbasis film dalam proses pembelajaran di sekolah dan menambah wawasan akan adanya film-film yang digunakan sebagai media dalam pembelajaran di sekolah.

b.  Manfaat praktis

  • Meningkatkan keterkaitan belajar siswa terhadap pembelajaan sejarah.
  •  Membantu memudahkan siswa menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit dalam sejarah.
  • Menambah pengalaman dan kepercayaan diri siswa dalam berperan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A.    Kajian Teori

Kajian teoretis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain 1) konsep minat, 2) pembelajaran sejarah, 3) dan, media film

  1. a.      Konsep Minat

Minat merupakan salah satu aspek psikis manusia yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu obyek, cenderung memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih besar kepada obyek tersebut. Namun apabila obyek tersebut tidak menimbulkan rasa senang. Untuk mencapai prestasi yang baik disamping kecerdasan juga minat, sebab tanpa adanya minat segala kegiatan akan dilakukan kurang efektif dan efesien. Pengertian Minat menurut Tidjan (1976 :71) adalah gejala psikologis yang menunjukan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek sebab ada perasaan senang. Dari pengertian tersebut jelaslah bahwa minat  itu  sebagai pemusatan perhatian atau reaksi terhadap suatu obyek seperti benda tertentu atau  situasi  tertentu  yang  didahului oleh  perasaan senang terhadap obyek tersebut.

Sedangkan menurut Drs. Dimyati Mahmud (1982), Minat dalah sebagai sebab yaitu kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang situasi atau aktifitas tertentu dan bukan pada yang lain, atau minat sebagai akibat yaitu pengalaman efektif yang distimular oleh hadirnya seseorang atau sesuatu obyek, atau karena berpartisipasi dalam suatu aktifitas.

Berdasarkan definisi tersebut dapatlah penulis kemukakan bahwa minat mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Minat adalah suatu gejala psikologis
  2.    Adanya pemusatan perhatian, perasaan dan pikiran dari subyek karena tertarik.
  3. Adanya perasaan senang terhadap obyek yang menjadi sasaran.
  4.   Adanya kemauan atau kecenderungan pada diri subyek  untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan.

Skinner mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi minat belajar dan untuk dapat mempengaruhi minat siswa maka seorang pendidik harus dapat mengubah proses belajar yang membosankan menjadi pengalaman belajar yang menggairahkan. Faktor yang mungkin terpenting dalam membangkitkan minat adalah pemberian kesempatan bagi siswa untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Seiring dengan pengalaman belajar yang menimbulkan kebahagiaan, minat anak akan terus tumbuh. Apabila anak memperoleh keterikatan kepada kegiatan-kegiatan dari pelajaran yang dialaminya, ia akan merasa senang. Oleh karena itu minat terhadap pelajaran harus ditimbulkan di dalam diri anak, sehingga anak terdorong untuk mempelajari berbagai ilmu yang ada di kurikulum sekolah.

 

  1. b.   Pembelajaran Sejarah

Pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman baik di alami langsung maupun tidak langsung. Menurut I Gde Widja (1989: 91) sejarah adalah studi keilmuan tentang segala sesuatu yang telah dialami manusia di waktu lampau dan yang telah meninggalkan jejak-jejaknya di waktu sekarang. Penekanan perhatian diletakkan pada aspek peristiwanya sendiri, dalam hal ini terutama yang bersifat khusus dari segi-segi urutan perkembangannya yang kemudian disusun dalam suatu cerita sejarah. Jadi, pembelajaran sejarah berarti mempelajari peristiwa-peristiwa masa lalu untuk di jadikan pengalaman guna memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Menurut Hill tujuan pengajaran sejarah bagi siswa, yaitu :

1.  Secara unik memuaskan rasa ingin tahu anak tentang orang lain, kehidupan, tokoh-tokoh, perbuatan dan cita-citanya yang dapat menumbuhkan kegairahan dan kekaguman.

2. Mewariskan kebudayaan dari umat manusia, penghargaan terhadap sastra, seni serta cara hidup orang lain.

3. Melatih tertib intelektual yaitu ketelitian dalam memahami dan ekspresi, menimbang bukti, memisahkan yang penting dari yang tidak penting, antara propaganda dan kebenaran.

4. Melalui pelajaran sejarah dapat dibandingkan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang.

5. Pelajaran sejarah memberikan latihan dalam pemecahan masalahmasalah atau   pertentangan dunia masa kini

Menurut Depdiknas (2003), pengajaran sejarah di sekolah juga berfungsi untuk menyadarkan siswa akan adanya proses perubahan dan perkembangan masyarakat dalam dimensi waktu dan untuk membangun perspektif serta kesadaran sejarah dalam menemukan, memahami, dan menjelaskan jati diri bangsa di masa lalu, masa kini dan masa depan di tengah-tengah perubahan dunia.

 

  1. c.    Media Film

Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame di mana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Atau film adalah serangkaian gambar yang diproyeksikan ke layar pada kecepatan tertentu sehingga menjadikan urutan tingkatan yang berjalan terus sehingga menggambarkan pergerakan yang nampak normal. Film pada hakikatnya merupakan penemuan baru dalam interaksi belajar mengajar yang mengkombenasikan dua macam indera pada saat yang sama.

Film yang dimaksudkan di sini adalah film sebagai alat audio visual untuk pelajaran, penerangan, atau penyuluhan. Banyak hal-hal yang dapat dijelaskan melalui film, antara lain tentang proses yang terjadi dalam tubuh kita atau yang terjadi dalam suatu industri, kejadian-kejadian dalam alam, tata cara kehidupan di negara asing, berbagai industri dan pertambangan, mengajarkan suatu ketrampilan, sejarah kehidupan orang-orang besar dan sebagainya.

Menggunakan film dalam pendidikan dan pengajaran di kelas sangat berguna atau bermanfaat terutama untuk:

1. Mengembangkan pikiran dan pendapat para siswa.

2. Menambah daya ingat pada pelajaran.

3. Mengembangkan daya fantasi anak didik.

4. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.

Carpenter dan Greenhill (1956) dalam mengkaji hasil-hasil penelitian tentang film menyimpulkan sebagai berikut:

1.   Film yang diproduksi dengan baik, bila digunakan baik sendirian maupun dalam suatu seri dapat diterapkan sebagai alat utama untuk mengajar ketarampilan penampilan (performance) tertentu dan untuk menyampaikan beberapa jenis data faktual.

2.  Tes setelah menonton akan meingkatkan belajar, jika siswa telah diberi tahu apa yang  harus diperhatikannya dalam film, dan bahwa mereka akan di tes tentang isi film tersebut.

3.  Siswa akan belajar lebih banyak jika diberi petunjuk studi untuk tiap film yang dipakai dalam kegiatan belajar-mengajar.

4.  Mencatat sambil menonton film hendaknya dicegah, karena hal itu akan mengganggu perhatian siswa trhadap film itu sendiri.

5.   Pertunjukan film secara bergantian dapat meningkatkan belajar.

6.  Film-film pendek dapat dipenggal menjadi film sambung dan bermanfaat untuk      kepentingan praktek atau latihan.

7.  Siswa dapat menonton film selama satu jam tanpa mengurangi keefektifan dari tujuan pertemuan tersebut.

8.  Keefektifan belajar melalui film harus dievaluasi.

9.  Sesudah sebuah film dipertunjukkan, lalu pokok-pokok isinya dijelaskan dan didiskusikan, akan mengurangi salah pengertian di kalangan siswa.

10. Kegiatan lanjutan setelah menonton film hendaknya digalakkan untuk memungkinkan pemahaman yang lebih tuntas.

Film harus dipilih agar sesuai dengan pelajaran yang sedang diberikan. Untuk itu guru harus mengenal film yang tersedia dan lebih dahulu melihatnya untuk mengetahui manfaatnya bagi pelajaran. Sesudah film dipertunjukkan perlu diadakan diskusi, yang juga perlu disisapkan sebelumnya. Ada kalanya film tertentu perlu diputar dua kali atau lebih utuk memperhatikan aspek-aspek tertentu. Agar anak-anak jangan hanya memandang film itu sebagai hiburan, sebelumnya mereka ditugaskan untuk memperhatikan hal-hal tertentu. Sesudah itu dapat ditest berapa banyakkah yang dapat mereka tangkap dari film itu.

 

  1. d.   Materi G30 Spki

G30 Spki adalah sejarah berdarah dalam negeri ini yang tidak boleh dilupakan oleh seluruh rakyat indonesia, sebagai pemicu semangat nasionalisme kita. Pada saat itu hingga era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun (Madiun Affairs), dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Baru di era Orde Baru peristiwa ini mulai dinamakan pemberontakan PKI. Bersamaan dengan itu terjadi penculikan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Madiun, baik itu tokoh sipil maupun militer di pemerintahan ataupun tokoh-tokoh masyarakat dan agama. Masih ada kontroversi mengenai peristiwa ini. Sejumlah pihak merasa tuduhan bahwa PKI yang mendalangi peristiwa ini sebetulnya adalah rekayasa pemerintah Orde Baru (dan sebagian pelaku Orde Lama).                         

Pada awal konflik Madiun, pemerintah Belanda berpura-pura menawarkan bantuan untuk menumpas pemberontakan tersebut, namun tawaran itu jelas ditolak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pimpinan militer Indonesia bahkan memperhitungkan, Belanda akan segera memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan serangan total terhadap kekuatan bersenjata Republik Indonesia. Memang kelompok kiri termasuk Amir Syarifuddin Harahap, tengah membangun kekuatan untuk menghadapi Pemerintah RI, yang dituduh telah cenderung berpihak kepada AS.   

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, muncul berbagai organisasi yang membina kader-kader mereka, termasuk golongan kiri dan golongan sosialis. Selain tergabung dalam Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), Partai Sosialis Indonesia (PSI) juga terdapat kelompok-kelompok kiri lain, antara lain Kelompok Diskusi Patuk, yang diprakarsai oleh Dayno, yang tinggal di Patuk, Yogyakarta. Yang ikut dalam kelompok diskusi ini tidak hanya dari kalangan sipil seperti D.N. Aidit, Syam Kamaruzzaman, dll., melainkan kemudian juga dari kalangan militer dan bahkan beberapa komandan brigade, antara lain Kolonel Joko Suyono, Letkol Sudiarto (Komandan Brigade III, Divisi III), Letkol Soeharto (Komandan Brigade X, Divisi III. Kemudian juga menjadi Komandan Wehrkreis III, dan menjadi Presiden RI), Letkol Dahlan, Kapten Suparjo, Kapten Abdul Latief dan Kapten Untung Samsuri.  

Pada bulan Mei 1948 bersama Suripno, Wakil Indonesia di Praha, Musso, kembali dari Moskow, Rusia. Tanggal 11 Agustus, Musso tiba di Yogyakarta dan segera menempati kembali posisi di pimpinan Partai Komunis Indonesia. Banyak politisi sosialis dan komandan pasukan bergabung dengan Musso, antara lain Mr. Amir Sjarifuddin Harahap, dr. Setiajid, kelompok diskusi Patuk, dll. 

Aksi saling menculik dan membunuh mulai terjadi, dan masing-masing pihak menyatakan, bahwa pihak lainlah yang memulai. Banyak perwira TNI, perwira polisi, pemimpin agama, pondok pesantren di Madiun dan sekitarnya yang diculik dan dibunuh. Tanggal 10 September 1948, mobil Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo (RM Suryo) dan mobil 2 perwira polisi dicegat massa pengikut PKI di Ngawi. Ketiga orang tersebut dibunuh dan mayatnya dibuang di dalam hutan. Demikian juga dr. Muwardi dari golongan kiri, diculik dan dibunuh. Tuduhan langsung dilontarkan, bahwa pihak lainlah yang melakukannya. Di antara yang menjadi korban juga adalah Kol. Marhadi yang namanya sekarang diabadikan dengan Monumen yang berdiri di tengah alun-alun Kota Madiun dan nama jalan utama di Kota Madiun. Kelompok kiri menuduh sejumlah petinggi Pemerintah RI saat itu, termasuk Wakil Presiden/Perdana Menteri Mohammad Hatta telah dipengaruhi oleh Amerika Serikat untuk menghancurkan Partai Komunis Indonesia, sejalan dengan doktrin Harry S. Truman, Presiden AS yang mengeluarkan gagasan Domino Theory. Truman menyatakan, bahwa apabila ada satu negara jatuh ke bawah pengaruh komunis, maka negara-negara tetangganya akan juga akan jatuh ke tangan komunis, seperti layaknya dalam permainan kartu domino. Oleh karena itu, dia sangat gigih dalam memerangi komunis di seluruh dunia. Kemudian pada 21 Juli 1948 telah diadakan pertemuan rahasia di hotel “Huisje Hansje” Sarangan, dekat Madiun yang dihadiri oleh Soekarno, Hatta, Sukiman, Menteri Dalam negeri, Mohamad Roem (anggota Masyumi) dan Kepala Polisi Sukanto, sedangkan di pihak Amerika hadir Gerald Hopkins (penasihat politik Presiden Truman), Merle Cochran (pengganti Graham yang mewakili Amerika dalam Komisi Jasa Baik PBB). Dalam pertemuan Sarangan, yang belakangan dikenal sebagai “Perundingan Sarangan”, diberitakan bahwa Pemerintah Republik Indonesia menyetujui Red Drive Proposal (proposal pembasmian kelompok merah). Dengan bantuan Arturo Campbell, Sukanto berangkat ke Amerika guna menerima bantuan untuk kepolisian RI. Campbell yang menyandang gelar resmi Atase Konsuler pada Konsulat Jenderal Amerika di Jakarta, sesungguhnya adalah anggota Central Intelligence Agency – CIA Diisukan, bahwa Sumarsoso tokoh Pesindo, pada 18 September 1948 melalui radio di Madiun telah mengumumkan terbentuknya Pemerintah Front Nasional bagi Karesidenan Madiun. Namun Soemarsono kemudian membantah tuduhan yang mengatakan bahwa pada dia mengumumkan terbentuknya Front Nasional Daerah (FND) dan telah terjadi pemberontakan PKI. Dia bahwa FND dibentuk sebagai perlawanan terhadap ancaman dari Pemerintah Pusat

Pada 19 September 1948, Presiden Soekarno dalam pidato yang disiarkan melalui radio menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, untuk memilih: Musso-Amir Syarifuddin atau Soekarno-Hatta. Maka pecahlah konflik bersenjata, yang pada waktu itu disebut sebagai Madiun Affairs (Peristiwa Madiun), dan di zaman Orde Baru terutama di buku-buku pelajaran sejarah kemudian dinyatakan sebagai pemberontakan PKI Madiun.

Kekuatan pasukan pendukung Musso digempur dari dua arah: Dari barat oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Wilayah II (Semarang-Surakarta) tanggal 15 September 1948, serta pasukan dari Divisi Siliwangi, sedangkan dari timur diserang oleh pasukan dari Divisi I, di bawah pimpinan Kolonel Sungkono, yang diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, tanggal 19 September 1948, serta pasukan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur, di bawah pimpinan M. Yasin. Panglima Besar Sudirman menyampaikan kepada pemerintah, bahwa TNI dapat menumpas pasukan-pasukan pendukung Musso dalam waktu 2 minggu. Memang benar, kekuatan inti pasukan-pasukan pendukung Musso dapat dihancurkan dalam waktu singkat.

Tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat, bertemu di Hotel Merdeka di Madiun. Namun pimpinan kelompok kiri beserta beberapa pasukan pendukung mereka, lolos dan melarikan diri ke beberapa arah, sehingga tidak dapat segera ditangkap.

Baru pada akhir bulan November 1948 seluruh pimpinan dan pasukan pendukung Musso tewas atau dapat ditangkap. Sebelas pimpinan kelompok kiri, termasuk Mr. Amir Syarifuddin Harahap, mantan Perdana Menteri RI, dieksekusi pada 20 Desember 1948, atas perintah Kol. Gatot Subroto. 

 

  1. B.       Kerangka Berfikir

Berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan, guru dan sekolah diberi otoritas untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi sekolah. KTSP bertujuan bagaimana membuat siswa dan guru lebih aktif dalam pembelajaran serta disesuaikan dengan kepentingan daerah. Penelitian sejarah merupakan salah satu butir pembelajaran yang ada didalam kurikulum sejarah dengan indikator mampu menerapkan penelitian sejarah secara sederhana dengan memperhatikan prinsip-prinsi dasar penelitian sejarah.

Materi pelajaran sejarah yang disampaikan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar dikelas merupakan konsep-konsep yang masih bersifat abstrak atau masih dalam tataran ide atau gagasan. Untuk itu, guru sejarah dituntut untuk menjabarkan konsep tersebut menjadi sesuatu yang lebih nyata atau konkrit, hal ini mutlak dilakukan oleh guru agar materi pelajaran sejarah yang diterima tidak bersifat verbalisme semata tetapi siswa betul-betul memahami materi yang diajarkan guru. Faktor lain yang berpengaruh pada minat belajar siswa baik dari segi nilai perilaku adalah strategi yang digunakan guru dalam mengajar. Selama ini guru belum melaksanakan pembelajaran sejarah secara sederhana yang dapat meningkatkan ketertarikan siswa pada proses pembelajaran sejarah. Maka untuk menghindarkan kebosanan pada siswa dan guru dalam penelitian ini akan menggunakan model pembelajaran dengan menggunakana media film.

Dengan ini diharapkan siswa akan lebih tertarik dengan mata pelajaran tersebut kemudian keinginan untuk mempelajari pelajaran itu akan semakin tinggi sehingga minat siswa juga akan lebih meningkat.

 

  1. C.       Penelitian yang Relevan

         Berikut ini disajikan beberapa hasil penelitian dan kajian-kajian tentang membaca yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini.

Rani (2009), dalam penelitian yang dilakukan di SMP N 1 Lembang mengkaji tentang Penerapan metode media film dalam upaya meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada pembelajaran sejarah pada Siswa Kelas VII-D SMP Negeri 1 Lembang.  Pembelajaran sejarah dengan metode film ternyata dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa sehingga memperoleh nilai rata-rata kelas hasil pretes 5,63 meningkat menjadi 6,73 pada siklus I dan 8,00 pada siklus II. Perubahan perilaku melalui proses pembelajaran sejarah dengan model media film , siswa menjadi lebih serius dan aktif mengikuti proses pembelajaran.

Burhanudin (2006), dalam penelitian yang di lakukan di SMA Muhammadiyah 2 Mojosari mengkaji tentang Upaya Meningkatkan Minat Belajar Geografi Melalui Model Pembelajaran dengan media film Kelas XI IPS SMA Muhammadiyah 2 Mojosari – Mojokerto. Hasil dari penelitian nontes menunjukkan adanya perubahan yang positif, yaitu siswa yang awalnya merasa kurang bersemangat dan berminat menjadi menyukai pembelajaran geografi, karena perubahan model mengajar guru. Kondisi ini terbukti ketika di dalam pembelajaran diwarnai dengan keceriaan dan aktifitas para siswanya.

 

  1. D.    Hipotesis Tindakan

Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data-data yang terkumpul. Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Upaya meningkatkan minat belajar siswa terhadap pembelajaran sejarahdengan menggunakan media film dalam pokok bahasan G 30 Spki pada siswa kelas XII IPA 2 SMA 1 Leuwimunding.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

METODE PENELITIAN

 

  1. A.     Setting Penelitian

Setting peneliitian dalam skripsi ini terdiri dari lokasi dan waktu penelitian. Lokasi PTK di lakukan peneliti adalah di SMA 1 Leuwimunding di Jl. Raya Leuwimunding- mirat No.12, Majalengka. Peneliti memilih SMA ini karena SMA ini siswa-siswanya terlihat kurang berminat dengan pelajaran sejarah terutama kelas XII IPA 2, sehingga harus di lakukan tindakan kelas. Waktu penelitian ini akan di laksanakan pada hari rabu, 5 juni 2013. Peneliti memilih waktu itu karena pada hari itu ada pelajaran sejarah di kelas XII IPA 2.

 

  1. B.        Subyek dan Sumber Data

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA2 tahun ajaran 2012/2013 yang terdiri dari 26 siswa putri dan 16 siswa putra. Sementara sumber data menurut Suharsimi Arikunto (2002: 107), adalah subjek dari mana data penelitian diperoleh. Sumber data penelitian ini adalah pengamatan terhadap siswa kelas XII IPA 2 SMA 1 Leuwimunding semester 2 tahun ajaran 2012/2013, saat berlangsungnya KBM dan dari guru yang sebelum dan setelah mengajar dengan menggunakan media film.

 

  1. C.     Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dibutuhkan data yang selanjutnya data tersebut dianalisa. Dalam penelitian ini data dikumpulkan melalui teknik non tes yang terdiri atas pedoman observasi, wawancara, dan dokumentasi.

 

  1. D.      Pedoman Observasi

Pedoman observasi pada penelitian ini ditekankan pada penghayatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, baik aktifitas siswa yang berupa perilaku positif maupun perilaku yang negatif, serta tanggapan siswa terhadap tugas sejarah yang diberikan oleh guru.

 

  1. E.       Wawancara

Wawancara pada penelitian ini yaitu dengan guru sejarah yang mengajar kelas XII IPA 2, baik sebelum maupun sesudah pembelajaran menggunakan media film.

 

  1. F.        Dokumentasi

Teknik dokumentasi ini digunakan sebagai bukti peristiwa dalam proses pembelajaran. Dokumentasi digunakan untuk merekam kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung. Dokumentasi dalam penelitian ini berisi aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh siswa dan guru selama proses pembelajaran menyusun penelitian sejarah secara sederhana berlangsung.

 

  1. G.      Validitas data

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 1998 : 160). Suatu instrumen disebut valid apabila instrumen tersebut sudah mampu mengungkap apa yang hendak diukur dengan tepat. Untuk menguji validitas penelitian ini, peneliti menggunakan teknik  trianggluasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2002:178).

Menurut Sugiyono (2006:330) triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber data yang sama. Adapun trianggulasi teknik ditempuh melalui langkah-langkah yaitu  Peneliti menggunakan observasi, wawancara mendalam, Serta dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Dari ketiga teknik pengumpul data tersebut kemudian di cari data yang sesuai.

 

  1. H.       Analisis Data

Dalam penelitian ini, data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.

  1. a.      Teknik Kuantitatif

Data ini diperoleh dari hasil tes penyusunan hasil penelitian sejarah secara sederhana yang diperoleh dari siswa. Besarnya persentase peningkatan minat siswa didapat melalui langkah-langkah sebagai berikut :

a)  merekap hasil perubahan minat dari siswa.

b)  menghitung nilai rata-rata.

c)   menghitung persentase

  1. b.      Teknik Kualitatif

Teknik kualitatif digunakan untuk memberikan gambaran perilaku siswa dalam pembelajaran sejarah dengan materi langkah-langkah penelitian sejarah secara sederhana dengan mengacu pada data non tes berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data non tes tersebut dianalisis secara kualitatif, yaitu dengan menilai, mengklasifikasikan dan mendeskripsikan atau menginterpretasi seluruh data yang diperoleh melalui pengamatan, jurnal dan dokumentasi.

 

  1. I.        Indikator Kerja

Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitataif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang ditetapkan. Oleh karena itu indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahap perencanaan (ex-ante), tahap pelaksanaan (on-going), maupun tahap setelah kegiatan selesai dan berfungsi (ex-post). PTK ini di katakan berhasil apabila terjadi peningkatan minat siswa terhadap pelajaran sejarah sekurang-kurangnya 85 %  atau 34 siswa dari 40 siswa menjadi berminat terhadap pelajaran sejarah.

 

  1. J.      Prosedur Penelitian

Penelitian di laksanakan dalam satu siklus, siklus tersebut terdiri dari beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

a.   Pelaksanaan siklus 1

  • Perencanaan Tindakan : Sebelum pelaksanaan penelitian tindakan siklus I, dilakukan observasi dan wawancara sebagai kegiatan awal. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh minat siswa dalam pelajaran sejarah. Pada tahap siklus I dilakukan penyusunan rencana kegiatan, dengan menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan masalah. Masalah yang dialami dalam pembelajaran sejarah selama ini terletak pada minat siswa sendiri terhadap pelajaran sejarah yang kurang. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan menggunakan model pembelajaran melalui media film.
  • Pelaksanaan Tindakan : Tindakan yang akan dilakukan secara garis besar adalah pembelajaran sejarah dengan menggunakan media film . Pada tahap ini pertama siswa di kondisikan untuk mengikuti pelajaran, kemudian  guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai tujuan pembelajaran serta manfaat yang akan diperoleh setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Lalu setelah penayangan film.
  • Pengamatan : Pengamatan dilakukan dengan mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran berlangsung dan respon siswa terhadap pembelajaran yang ada. Pengamatan dilakukan dengan mengambil data, berupa data nontes. Data nontes diambil pada saat pembelajaran berlangsung dan setelah pembelajaran selesai.
  • Refleksi : Refleksi dilakukan untuk menganalisis hasil kegiatan pada siklus I dengan tujuan untuk mengetahui hasil atau dampak pelaksanaan tindakan. Dari hasil refleksi tersebut dapat disusun perbaikan rencana pembelajaran untuk siklus II. Masalah-masalah pada siklus I dicari pemecahannya, sedangkan kelebihannya dipertahankan dan ditingkatkan pada siklus II.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendeketan Praktek, Edisis Revisi V. Jakarta : Rineka Cipta.

Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Ni’mah, Evi Masluhatun.2007.Skripsi : Efektivitas Model Pembelajaran Think-Pair-Share Dalam Mata Pelajaran Sejarah Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Semarang.Semarang : UNNES Press.

Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta.

Sulistyo, Basuki Dwi.2007. Skripsi: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Pada Pembelajaran IPS Sejarah Di SMP Negeri 21 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007. Semarang: UNNES Press.

Widja, I Gde.1989. Dasar-Dasar Pengembangan Strategi serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta : Depdikbud.

Windrayani. 2005. Skripsi : Kesiapan Guru Sejarah SMA dalam Menghadapi Pelaksanaan Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensidi Kabupaten Cilacap. Semarang : UNNES Press.

 

http://belajarpsikologi.com/pengertian-minat/. ( Di akses tgl 30 mei 2011)

 

http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-dan-bermain-peranan-role-playing-method/. ( Di akses tgl 30 mei 2011)

 

 

 

BLAISE PASCAL

Published July 5, 2013 by nilamarifani

BAB I

  1. A.    Latar Belakang

 Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang berasal dari kata philosophia yang berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang dan suka, serta kata sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan ( Hamdani Ali,1986:7). Hasan Shadily (1984:9) mengatakan bahwa filsafat menurut asal katanya adalah cinta akan kebenaran. Dengan demikian, dapat ditarik pengertian bahwa filsafat adalah cinta pada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi, orang yang berfilsafat adalah orang yang cinta kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan bijaksana. Dalam kehidupan modern ini, filsafat bisa diartikan sebagai ilmu yang berupaya memahami semua hal yang muncul di dalam keseluruhan ruang lingkungan pandangan dan pengalaman umat manusia.

Rasionalisme, merupakan aliran filsafat yang sangat mementingkan rasio. Dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio.  Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas-asas pertama yang pasti.

Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kecil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

SEKILAS TENTANG BLAISE PASCAL

  1. A.    Biografi

Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh, salah satunya Blaise Pascal. Blaise Pascal (1623 1662 M) terlahir di Clermont Ferrand pada 19 June 1623. Ia putra seorang penarik pajak di wilayah Auvergne Prancis. Sejak kecil ia terlihat sebagai anak yang cerdas. Pascal tidak pernah mengunjungi sekolah resmi. Ia dididik secara ketat oleh ayahnya. Bidang ilmu pengetahuan yang ia minati adalah matematika dan fisika, hingga dikemudian hari Pascal menjadi tokoh penting dari kedua bidang ilmu tersebut. Pascal memiliki kecenderungan asketisme dalam kehidupan pribadinya. Ia tidak memandang kegiatan ilmiah sebagai kegiatan duniawi, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Karya Pascal yang termasyhur berupa sebuah kumpulan aforisme berjudul Pensee Sur la Religion (Pemikiran-Pemikiran tentang Agama).

  1. B.     Karya- karya Blaise Pascal

Pascal juga menulis tentang hidrostatik, yang menjelaskan eksperi¬mennya menggunakan barometer untuk menjelaskan teorinya tentang Persamaan Benda Cair (Equilibrium of Fluids), yang tak sempat dipublikasikan sampai satu tahun setelah kematiannya. Makalahnya tentang Persamaan Benda Cair mendorong Simion Stevin melakukan analisis tentang paradoks hidrostatik dan dan meluruskan apa yang disebut sebagai hukum terakhir hidrostatik: bahwa benda cair menyalurkan daya tekan secara sama-rata ke semua arah (yang kemudian dikenal sebagai Hukum Pascal). Hukum Pascal dianggap penting karena keterkaitan antara Teori Benda Cair dan Teori Benda Gas, dan tentang Perubahan Bentuk tentang keduanya yang kemudian dikenal dengan Teori Hidrodinamik.

Teori Pascal memberikan pengaruhnya pada teori matematik di saat Pascal memulai kehidupan di Port Royal yang digunakan mengatasi problem penghitungan yang berhubungan dengan kurva dan lingkaran, yang juga harus dikuasai oleh matematikawan modern. Ia banyak menerbitkan teorema yang diajukan sebagai tantangan kepada matematikawan lain untuk dipecahkan, tanpa satupun yang menjawabnya. Jawaban kemudian datang dari John Wallis, Christopher Wren, Christian Huygens, dan kawan-kawan, tanpa hasil yang memuaskan. Pascal akhirnya menerbitkan jawabannya sendiri dengan menggunakan nama samaran Amos DettonviIle (kemudian dikenal dengan anagram Louis de Montalte), kemudian matematikawan sekarang sering juga menyebut dirinya dengan nama ini. Teori matematik probabilitas menjadi berkembang pertama kali ketika terjadi komunikasi antara Pascal dan Pierre de Fermat yang akhirnya menemukan bahwa kedua teori Pascal dan Matematika Probabilitas memiliki kesamaan meski masing-masingnya tetap berdiri sendiri. Pascal merencanakan menulis makalah tentang itu, namun lagi-lagi cuma cuplikan-cuplikan yang ditinggalkannya, yang diterbitkan setelah kematiannya. Ia tak pernah menulis teori matematik yang panjang lebar berbelit-belit, melainkan tulisan-tulisan pendek yang singkat, jelas, dan abadi

  1. C.    Pandangan yang mempengaruhi Blaise Pascal

Selain seorang ilmuan yang cerdas, Pascal juga seorang filsuf. Dalam beberapa hal ia mengikuti Descartes yang menekankan metode geometris dan matematis sebagai landasan berfilsafat. Tetapi ia tidak setuju jika filsafat hanya didasarkan hanya pada rasio matematis akal budi. Pascal berpendapat: “Le coeur a ses reisons que la raison ne connait point” yang artinya: “Hati memiliki alasan-alasan yang tidak dimengerti rasio“. Maksud pernyataannya ini bukanlah mempertentangkan rasio dengan hati. Hati menurut Pascal adalah unsur pemahaman yang dapat menangkap prinsip-prinsip pertama kenyataan secara berlainan dari rasio. Ia menyejajarkan ‘hati’ dengan ‘kehendak’ yang berkaitan dengan ‘kepercayaan’, juga melukiskan ‘hati’ dengan ‘kemampuan untuk mengetahui’. Menurut Pascal, manusia tidak hanya dapat mengetahui kebenaran hanya dengan rasio, tetapi juga menggunakan hati. Yang dapat mengetahui Allah secara langsung adalah hati, bukan rasio. Menurutnya, iman adalah penasihat yang lebih baik daripada akal. Akal mempunyai batas, sedangkan iman tidak demikian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

  1. A.    Pandangan Tentang Sejarah

Salah satu tema filsafat Blaise Pascal adalah tentang kenistaan dan keluhuran manusia. Pascal memandang manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang nista sekaligus luhur. Manusia adalah makhluk yang kontradiktoris di dalam dirinya sendiri, karenanya tidak pernah dapat meraih kepuasan sempurna. Manusia tidak sepenuhnya rasional, tetapi juga tidak sepenuhnya irrasional. Baik rasio maupun nafsu jalin-menjalin secara dialektis. Jadi manusia butuh Allah, tanpa Allah manusia benar-benar rapuh. Tulisnya: “Keagungan manusia terdapat dalam kenyataan bahwa ia mengenali dirinya sebagai sesuatu yang nista. Sebuah pohon tidak mengenali dirinya sebagai sesuatu yang nista. Menjadi nista berarti mengenali diri sebagai nista, tetapi menjadi agung berarti mengenali bahwa manusia itu nista.”

Tema filsafatnya yang lain adalah tentang Le Pari (Pertaruhan). Menurutnya, kita harus memutuskan sebuah pertaruhan tentang ada tidaknya Allah. Pascal memutuskan untuk percaya bahwa Allah itu ada. Ia perpendapat bahwa orang yang menang dalam pertaruhan adalah orang yang memenangkan segalanya. Sementara orang yang kalah, ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Untuk itu, lebih baik bertaruh bahwa Allah itu ada. Dengan argumen Le Pari Pascal merintis sebuah pendekatan terhadap agama, bahwa agama tidak dapat didekati hanya dengan menggunakan rasio. Unsur lain yang lebih penting berupa hati, kehendak, dan iman.

 

 

 

BAB IV

  1. A.    Kesimpulan

Dalam kehidupan modern, filsafat telah berhasil mengubah pola fikir manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Filsafat memberikan landasan filosofi dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Dalam perkembangannya, filsafat terbentuk menjadi sepuluh aliran diantaranya adalah Aliran Rasionalisme. Aliran ini berpandangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal. Aliran Rasionalisme merupakan dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu alam yang menjadi pemicu terbentuknya manusia dan masyarakat modern dan ilmiah dewasa ini. Dalam kehidupan modern, filsafat telah berhasil mengubah pola fikir manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris.

Demikian diatas penjelasan singkat tentang pemikiran filosofis Blaise Pascal yang mengantarnya untuk pantas disebut sebagai filsuf, selain sebagai seorang ilmuan yang cerdas dan berpengaruh dalam bidang ilmu matematika dan fisika. Secara kasar, dapat saya sebutkan bahwa pandangan filsafat Blaise Pascal merupakan salah satu tantangan bagi aliran filsafat rasionalisme yang menyandarkan pemikiran filosofis hanya pada rasio akal budi.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Drs. H. Syadali Ahmad M.A 2004 filsafat umum. Bandung : pustaka setia

http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/10/tokoh-matematika-blaise-pascal.html

http://sitinurzahra.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-

http://fisika-indonesia.blogspot.com/2010/07/blaise-pascal-fisikawan-perancis.html

 

LAPORAN

Published June 26, 2013 by nilamarifani

Laporan Observasi  di SMA 1 Leuwimunding

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah  Pengembangan Inovasi Pembelajaran Sejarah

Oleh :

  • Nilam Arifani                               3101411132

 

 

 

 

 

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2013

  1. A.    Laporan Observasi Pembelajaran Sejaran di SMA 1 Leuwimunding

Pada hari Senin, 3 Juni 2013, sekitar pukul 09.30 WIB Saya datang ke SMA 1 Leuwimunding untuk meminta izin observasi di sana. Sebelumnya saya mendatangi ke pos satpam untuk bertanya harus bertemu siapa dan mengisi buku tamu. Kemudian mang Oim (satpam) mengantarkan saya untuk bertemu guru yang menangani di bidang kurikulum yaitu Bapak Ismail dan kami berbincang-bincang mengenai keperluan saya datang kesana. Menurut beliau, seharusnya saya tidak langsung membuat surat yang menuju langsung ke SMA 1 Leuwimunding karena belum tentu saya langsung diterima disana apabila sekolah tersebut sedang sibuk, sedangkan seperti yang kita tahu bahwa membuat surat itu pasti lama prosesnya, jadi seharusnya saya datang untuk meminta izin dahulu kesana, lalu bila di setujui baru membuat surat yang menuju ke SMA 1 Leuwimunding. Tapi karena saya sebelumnya sudah mengenal Pak Ismail, jadi Beliau mencoba membantu saya dan menyuruh saya untuk mencoba meminta izin kepada Bu Fitri selaku guru bidang studi sejarah yang merupakan salah satu narasumber saya dalam observasi ini. Setelah itu saya menemui Bu Fitri di ruangannya, dan beliau menyambut saya dengan baik. Beliau menanyakan keperluan saya datang kesana, setelah saya jelaskan bahwa saya ingin mengadakan observasi tentang pembelajaran sejarah  di SMA 1 Leuwimunding, Bu Fitri mengatakan boleh-boleh saja. Kemudian kami menyepakati bahwa waktu observasinya adalah hari Rabu jam 09.00 WIB. Setelah menyepakati hal tersebut, Saya segera mohon pamit kepada Bu Fitri sekaligus mengucapkan terimakasih karena diperbolehkan untuk observasi di SMA 1 Leuwimunding.

Hari Rabu saya melakukan observasi ke SMA 1 Leuwimunding, tepatnya tanggal 5 Juni 2013, sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah sampai di SMA 1 Leuwimunding, saya langsung mendatangi pos satpam untuk bertanya apakah ada Bu Fitri atau tidak dan saya diantar ke ruang guru, saya menghampiri beliau, kami saling bertegur sapa dan saya langsung diajak Bu Fitri untuk mengikuti pembelajaran sejarah yang jadwalnya pada saat itu di kelas XI IPA 3. Siswa-siswi kelas XI IPA 3 rupanya sudah menunggu kehadiran Bu fitri, beliau membuka pelajaran dengan memberikan motivasi kepada para siswa untuk mengahadapi ujian kenaikan kelas yang akan dilakukan minggu depan dan sedikit  mengulas  kembali kepada siswa-siswi tentang pelajaran yang di bahas minggu kemarin. Kemudian Bu Fitri mejelaskan secara ringkas tentang peristiwa G 30 Spki, selama penjelasan yang di berikan beliau, para siswa terlihat antusias karena ternyata sebelumnya bu Fitri sudah janji untuk menayangkan film tentang G30Spki. Karena keterbatasan fasilitas pembelajaran yaitu sekolah hanya mempunyai 2 in focus sehingga harus bergantian menggunakannya dan pada saat itu in focus sedang di pakai oleh kelas yang lain, penayangan film bersejarah ini kita lakukan di perpustakaan karena tv dan VCD nya berada disana. Untuk memenuhi janjinya Bu Fitri pun langsung mengajak seluruh siswa kelas XI IPA 3 dan saya untuk ke perpustakaan.

Perpustakaan disana terlihat sepi, bukan hanya sepi dari kunjungan siswa tetapi juga sepi dari buku bacaan, yang saya lihat di sana hanya buku-buku paket atau buku babon, sedangkan buku-buku yang bisa dijadikan untuk menarik minat baca siswa seperti novel sejarah, cerpen sejarah, atau sastra sangat sedikit. Tetapi saya senang melihat siswa yang bersemangat masuk kedalam perpustakaan walau bukan untuk membaca melainkan untuk menonton film sejarah. Antusias para siswa terlihat ketika bu Fitri mengatakan bahwa durasi filmnya 3 jam sehingga tidak mungkin jika di tonton sampai selasai para siswa meminta agar Bu Fitri mengizinkan setiap siswa mngecopy film tersebut agar bisa ditonton di rumah sehingga bisa menghilangkan rasa penasaran mereka terhadap film tersebut. Sebelum film mulai ditanyangkan Bu Fitri pun meminta setiap siswa mencatat apa saja yang berperan penting dalam peristiwa G 30 Spki, fakta – fakta dalam peristiwa G 30 Spki, dan lain-lain.

Selama penayangan siswa serius menyimak film dan mencatat hal-hal yang penting, namun tidak sedikit siswa yang malah asyik mengobrol. Saya mengidentifikasi hal tesebut terjadi karena suara dari film tersebut kurang keras sehingga hanya siswa yang duduk di depan yang bisa mendengar jelas, kemudian tempat menonton film dekat sekali dengan pintu keluar sehingga suara dari luar sangat mengganggu apabila pintu tersebut di tutup ruangan tersebut akan sangat panas karena ruangan tersebut ventilasi udaranya kurang dan tidak ada kipas angin atau pendingin ruangan. Penayangan film tersebut kurang lebih hanyan 40 menit, sebelum mengakhiri pelajaran tersebut Bu fitri meminta salah satu seorang murid menjelaskan tentang  peristiwa G 30 Spki yang tadi di pertontonkan, dan ternyata luar biasa banyak dari mereka yang mengangkat tangan mereka menawarkan diri untuk menjelaskan peristiwa G 30 Spki di depan teman-temannya, tetapi akhirnya Bu Fitri menunjuk Etty untuk berdiri dan menjelaskannya.

Setelah selesai mengikuti pembelajaran Bu fitri di kelas XI IPA 3 ini saya menarik kesimpulan bahwa metode-metode atau strategi pembelajaran yang di ajarkan di dalam perkuliahan tidak semua bisa di implementasikan di dalam kelas  karena tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai. Sebagai seorangng guru harus siap mengajar dengan menarik walaupun tanpa fasilitas yang cukup tetapi dengan kreatifitas pembelajaran yang menyenangkan bisa terwujud.

  1. B.     Jurnal Refleksi

Saat saya melakukan observasi tentang pembelajaran sejarah di kelas XI IPA 3 Leuwimunding saya menemui beberapa masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu diantaranya saat pembelajaran  masih banyak siswa yang asyik mengobrol atau membuat gaduh, dan  mengantuk. masih ada beberapa anak yang tidak memerhatikan guru yang sedang menerangkan materi. Pada saat penayangan film juga terjadi beberapa kendala yaitu suara yang kurang keras mungkin karena tidak di lengkapi dengan sound. Ada beberapa siswa yang terlihat bikin gaduh sendiri saat penayangan film mungkin karena dia bosan atau tidak menyukai film tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu di pahami oleh guru bahwa kelas yang gaduh bukan berarti tidak teratur, metode belajar aktif terkadang pula malah membuat kelas menjadi gaduh. Oleh karena itulah, perlunya penyesuaian tingkat kebisingan di kelas. Agar guru bisa menjelaskan materi dengan jelas dan siswapun dapat menangkap pelajaran yang di berikan guru. Saat diajar usahakan jangan biarkan mereka berdiskusi tentang tugas atau materi pelajaran, jika dengan cara seperti itu justru ma membuat siswa malah semakin gaduh. Jika pada saat tertentu terlihat siswa Anda sudah tidak berkonsentrasi, gaduh misalnya, cobalah mengkondisikan kelas dengan membuat energizing misalnya braingym (senam otak) atau kata-kata “Hai-Hello”. Panggilah siswa-siswa Anda dengan “Hai”, dan siswa Anda harus membalasnya dengan “Hello” atau sebaliknya. Namun tentu saja kata-kata tersebut harus sudah disampaikan sebelum Bapak memulai pelajaran, agar siswa tidak bingung.

  1. Lampiran
    1. Biodata guru

Nama               :

TTL                 :

Alamat                        :

B. Keahlian     :

  1. Dokumentasi

RESUME BUKU OEMAR HAMALIK

Published June 26, 2013 by nilamarifani

BAB I

DASAR SYSTEM PENGAJARAN

  1. A.  PENDEKATAN SYSTEM

system adalah suatu konsep yang abstrak. Dalam difinisi tradisional menyatakan bahwa system adalah seperangkat komponen yag saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam arti yang luas,suatu system muncul karena seseorang telah mendefisinikan demekian. Tujuan suatu system dapat bersifat alami dan bersifat manusiawi. Tujuan yang alami tak mungkin menjadi tujuan-tujuan yang tinggi tingkatannya, bahkan mungkin bernilai sangat rendah, sedangkan tujuan yang bersifat manusiawi (man-made) senantiasa dapat berubah..

  1. 1.    Konsep kotak hitam

Konsep kotak hitam merupakan pertimbangan bagi eksistensi system atau kebutuhan bagi suatu system baru dengan mempelajari hubungan antara lingkungan, input, dan output. Konsep kotak hitam mengindentifikasi bahwa yang dimaksud dengan system adalah suatu kotak hitam yang kecil (a little black box).

  1. 2.    Model pendekatan system

Awalnya pendekatan system digunakan dalam bidang teknik yang dilaksanakan untuk mendesain sistem-sistem elektronik, mekanik, dan militer. Akam tetapi pada akhir tahun 1950 dan awal 1960-an, pendekatan system mulai dipergunakan dalam bidang latihan dan pendidikan, analisis kebutuhan dengan maksud mentransformasikannya menjadi tujuan-tujuan, desain metode dan materi instruksional, pelaksanaan secara eksperimental, dan akhirnya menilai dan merevisi.

  1. B.  SISTEM PENGAJARAN

Pendidikan, latihan, pengajaran, serta teknologi pendidikan memiliki pengertian sendiri-sendiri namun memiliki hubungan yang sangat erat. Pendidikan lebih menitik beratkan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian. Sedangkan latihan (trainimg) lebih menekankan pada pembentukan ketrampilan (skill). Pendidikan dilaksanakan dalam lingkungan sekolah, sedangkan penggunaan latihan umumnya dilaksanakan dalam lingkungan industry. Meskipun kedua istilah ini berbeda, namun pendidikan kepribadian saja jelas kurang lengkap. Para siswa perlu juga memiliki ketrampilan. Dengan ketrampilan, siswa dapat bekerja, berproduksi, dan menghasilkan hal-hal untuk memenuhi kebutuhan orang banyak. Teknologi pendidikan dapat berarti meliputi semua kegiatan inovasi pendidikan, tetapi juga dapat berarti bukan sesuatu yang baru. Karena itu , istilah teknologi pendidikan mengandung kontroversi.

  1. 1.    Pendekatan Sistem Pengajaran

Pendekatan system mengandug dua aspek, yaitu aspek filisofis dan aspek proses. Aspek filosofis merupakan pandangan hidup yang mendasari sikap perancangan system yang terarah pada kenyataan. Sedangkan aspek proses  adalah suatu proses dan sustu pendekatan alat konseptual.

Pendekatan system merupakan suatu perangkat alat atau teknik. Alat-alat itu berbentuk kemampuan dalam:

  1. Merumuskan tujuan-tujuan secara operasional,
  2. Mengembangkan deskripsi tugas-tugas secara lengkap dan akurat,
  3. Melaksanakan analisis tugas-tugas.

Analisis tugas memang lebih penting sebab berkenaan dengan aplikasi prinsip-prinsip belajar secara ilmiah. Alat-alat dan pendekatan rancangan system pengajaran menuntut para guru agar pengajaran menyediakan kondisi bagi siswa. Jadi prinsip belajar merupakan petunjuk bagi guru dalam menata kondisi belajar yang efektif. Ada dua ciri pendekatan system pengajaran, yaitu pendekatan system merupakan suatu pendapat tertentu yang mengarah ke proses belajar mengajar. Dan penggunaan metodologi khusus untuk mendesain system pengajaran.

 

2. Konsep Sistem Pengajaran

System pengajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsure-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang dan tingkat keunikan. System pengajaran senantiasa ditandai oleh organisasi dan interaksi antar komponen untuk mendidik siswa.

3. Ciri-Ciri Sistem Pengajaran

Terdapat tiga ciri khsas yang terkandung dalam system pengajaran yaitu rencana, kesalingketergantungan, serta tujuan. Tujuan sistem menentukan proses merancang system. Tujuan dari system pengajaran adalah siswa yang belajar.

  1. C.  MASALAH-MASALAH PENGAJARAN DAN PEMECAHANNYA
  2. Perumusan masalah
  3. Kategori masalah-masalah pengajaran
  4. Masalah-masalah arah atau tujuan
  5. Masalah-masalah evaluasi
  6. Masalah isi dan urutan pelajaran
  7. Masalah metode
  8. Masalah hambatan
  9. Pemecahan masalah dengan pendekatan algoritmik
  10. Pemecahan masalah dengan pendekatan heuristic

 

  1. D.  STRATEGI DASAR MERANCANG SYSTEM PENGAJARAN

Strategi merancang system pengajaran adalah suatu rencana untuk mengerjakan prosedur merancang system secara efesien. Strategi dibutuhkan berhubungan dengan proses penerimaan yang sesungguhnya sangat kompleks. Strategi Dasar Perencanaan, ada tiga tahap dalam merencanakan desain suatu system

1)   Menganalisis tuntutan-tuntutan system,

2)   Mendesain system , dan

3)   Mengevaluasi dampak system.

 

BAB II

KEDUDUKAN SISTEM PENGAJARAN DI SEKOLAH

Sebelum menyusun perencanaan pengajaran, seorang guru sebaiknya terlebih dahulu mengenali kedudukan sistem pengajaran di sekolah. Hal ini bertujuan agar guru atau calon guru dapat memperoleh informasi yang releven tentang komponen sistem pengajaran.

 

  1. A.  SEKOLAH SEBAGAI SUATU SISTEM SOSIAL

Sekolah sebagai suatu sistem sosial dapat ditinjau dari dua fenomena yaitu fenomena pertama, berkenaan dengan lembaganya yang melaksanakan peranan dan fungsi, serta harapan-harapan tertentu untuk mencapai tujuan dari sistem tersebut. Yang kedua mengenai individu yang berbeda dalam sistem, yang masing-masing memiliki kepribadian dan disposisi kebutuhan.

  1. 1.    Fungsi dan Tugas Sekolah

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang bertanggung jawab melaksanakan fungsi-fungsi tersebut. Sehingga konsepsi tentang fungsi dan tugas sekolah adalah salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan tujuan persekolahan, menurut Prof. I. P. Simanjuntak pada pengembangan kurikulum sebagai alat untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut. Beliau menyebutkan pada garis besarnya bahwa fungsi sekolah adalah:

1)   Mendidik calon warga negara yang dewasa,

2)   Mempersiapkan calon warga masyarakat,

3)   Mengembangkan cita-cita profesi/kerja,

4)   Mempersiapkan calon pembentuk keluarga yang baru, dan

5)   Pengembangan pribadi (realisasi diri)

  1. 2.    Proses Pendidikan di Sekolah

Menurut  J. M. Cooper menguntip model proses pendidikan dari Lawrence Downey yang isinya:

1)   Dimensi substansi, tentang apa yang dikejakan;

2)   Dimensi tingkah laku,

3)   Dimensi lingkungan

Ketiga dimensi tersebut disusun dalam bentuk model konseptual proses pendidikan.

  1. B.  KURIKULUM SEKOLAH

Kurikulum merupakan alat pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Dalam pengertian pertama, kurikulum dianggap sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk memperoleh ijazah. Sedangkan dalam arti luas, kurikulum adalah semua pengalaman yang dengan sengaja disediakan oleh sekolah bagi para siswa untuk mencapai pendidikan.

  1. 1.    Faktor-Faktor Penyusun Kurikulum

Faktor-faktor yang mendasari dalam penyusunan dan perencanaan kurikulum adalah sebagai berikut:

  1. Filsafat pendidikan,
  2. Kemasyarakatan,
  3. Pertumbuhan dan perkembangan siswa,dan
  4. Proses belajar.

.

  1. 2.    Organisasi Kurikulum

Kurikulum yang dilaksanakan di sekolah-sekolah memiliki organisasi yang terdiri dari komponen-komponen berbagai berikut:

  1. Prinsip-Prinsip Dasar
  2. Dasar dan Tujuan Pendidikan
  3. Susunan Kurikulum
  4. Program Pengajaran dan Metode Penyampaian

 

  1. C.  GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP)

1. Konsep GBPP

GBPP adalah ikhtisar dari keseluruhan program pengajaran yang terdiri dari tujuan kurikuler, tujuan instruksional umum, dan ruang lingkup bahan pengajaran, yang diatur dan disusun secara berurutan. GBPP ini sendiri terdiri atas empat komponen, yaitu tujuan kurikuler, tujuan instruksional umum, pokok bahasan dan subpokok bahasan, tingkat dan semester.

  1. 2.    Asas-Asas Penyusunan Program

Setiap program kurikuler disusun berdasarkan asas-asas tertentu. Pada umumnya asas-asas yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:

  1. Setiap program harus berorientasi pada tujuan tertentu,
  2. Setiap program bersifat fleksibel,
  3. Setiap program dilaksanakan secara efisien dan efektif,
  4. Setiap program dilaksanakan bersifat berkesinambungan,
  5. Isi program disusun berdasarkan pada asas keseimbangan,
  6. Program kurikuler harus pula mempertimbangkan asas pertentangan (kontras).
  7. D.  CIRI-CIRI SISWA
  8. 1.    Telaahan Ciri-Ciri Siswa

Hasil dari telaah ini menjadi dasar pertimbangan dalam rangka menentukan jenis, luas, dan bobot bahan pelajaran yang akan disajikan, cara penyampaian yang akan dilakukan dan kegiatan-kegiatan belajar dituntut terhadap siswa. Jika telaahan yang dilakan dengan baik, maka hasilnya dapat digunakan untuk merancang sistem pengajaran yang efektif dan efisien.

  1. 2.    Perilaku Awal (Entering Behavior)

Dari tingkah laku awal menentukan status pengetahuan dan keterampilan siswa sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh siswa. Terdapat empat konsep yang erak kaitannya dengan tingkah laku awal yaitu kesiapan, kematangan, perbedaan individu, dan kepribadian.

  1. 3.    Latar Belakang Akademik dan Sosial

Terdapat dua jenis latar belakang dari siswa, yaitu latar belakang akademik dan latar belakang sosial yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain sistem pengajaran, sehingga menuntut guru agar melakukan kajian sebelumnya. Kemp, menyarankan agar faktor akademik dan faktor sosial berikut ini menjadi bahan analisis ciri-ciri siswa. Faktor-faktor akademis meliputi jumlah siswa, latar belakang akademis, indeks prestasi, tingkat intelegensi, tingkat keterampilan membaca, nilai ujian, kebiasaan belajar, pengetahuan mengenai bahan yang akan disajikan, dorongan/minat belajar, harapan/keinginan siswa mengenai mata pelajaran yang bersangkutan, lapangan kerja yang diinginkan, serta cita-cita..

  1. E.  CIRI-CIRI GURU PROFESIONAL

Pelaksanaan kurikulum dalam sistem instruksional yang telah didesain dengan sistematik membutuhkan tenaga profesional. Guru harus memenuhi persyaratan, profesinya dan kemampuan tinggi untuk mengembangkan potensi siswa secara optimal. Peran guru tidak hanya bersifat administratif dan organisatoris, tetapi juga bersifat metodologis dan psikologis. Di balik itu semua guru harus memiliki kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan.

 

BAB III

MODEL-MODEL PERENCANAAN PENGAJARAN

 

  1. A.  PERENCANAAN PENGAJARAN VERSI PBTE

Pengembangan program instruksional dilaksanakan dengan pendekataan sistemik dengan mempertimbangkan semua faktor dan komponen-komponen yang ada. Sistem instuksional dikembangkan melalui prosedur sebagai berikut:

  1. Merumuskan asumsi-asumsi secara jelas, eksplisit, dan khusus.
  2. Mengidentifikasi kompetensi.
  3. Merumuskan tujuan-tujuan secara deskriptif
  4. Menentukan tingkat-tingkat kriteria dan jenis assement
  5. Pengelompokan dan penyusunan tujuan-tujuan pelajaran berdasarkan urutan psikologis untuk mencapai maksud-maksud instruksional
  6. Mendesain strategi instruksional
  7. Mengorganisasi sistem pengelolaan kelas.
  8. Mengujicobakan program
  9. Menilai desain instruksional
    1. Memperbaiki kembali program

 

  1. B.  PERENCANAAN PENGAJARAN SISTEMATIS

Suatu model penggunaan penekatan sistem dalam rangka mengembangkan course design, adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Identifikasi tugas-tugas
  2. 2.    Analisis tugas
  3. 3.    Penetapan kemampuan
  4. 4.    Spesifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap
  5. 5.    Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan
  6. 6.    Perumusan tujuan
  7. 7.    Kriteria keberhasilan program
  8. 8.    Organisasi sumber-sumber belajar
  9. 9.    Pemilihan strategi pengajaran
  10. 10.     Uji lapangan program
  11. 11.     Pengukuran reliabilitas program
  12. 12.     Perbaikan dan penyesuaian program
  13. 13.     Pelaksanaan program
  14. 14.     Monitoring program

 

  1. C.  PERENCANAN PENGAJARAN MODEL DAVIS

Teknik merancang sistem belaljar berlangsung dalam tahap-tahap sebagai berikut:

  1. 1.    Penetapan status sistem pengajaran
  2. 2.    Perumusan tujuan pengajaran
  3. 3.    Perencanaan dan pelaksanaan evaluasi
  4. 4.    Pendeskripsian dan pengkajian tugas
  5. 5.    Pelaksanaan prinsip-prinsip belajar

 

  1. D.  PROSEDUR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL (PPSI)

PPSI adalah suatu pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun suatu pelajaran. PPSI terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut:

  1. Pedoman perumusan tujuan yang memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus.
  2. Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian yang memberikan petunjuk tentang prosedur penilaian yang akan ditempuh.
  3. Pedoman proses kegitan belajar siswa, merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan instruksional.
  4. Pedoman program kegiatan guru, sebagai petujuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan bimbingan.
  5. Pedoman pelaksanaan program, sebagai petunjuk dari program yang telah disusun, dari dimulainya pelaksanaan tes awal sampai pada dilaksanakannya penilaian hasil belajar.
  6. Pedoman perbaikan atau revisi, yang merupakan pengambangan program setelah selesai dilaksanakan.

BAB IV

PEKERJAAN, TUGAS, MATA AJARAN, TOPIK

Analisis merupakan suatu bentuk penerapan pendekatan sistem, yang disebut sistem analisis. Pendekatan telaah dilaksanakan dalam langkah-langkah kerja dengan pola (format) dan ukuran (standar) tertentu.

  1. A.  MENUJU KE PERENCANAAN PENGAJARAN

Perancang harus bisa memecahkan masalah tersebut, yangmana dalam hal ini terdapat dua pendekatan yaitu terkait dengan pendekatan output dan input. Antara pengetahuan dan informasi terdapat perbedaan, pengetahuan merupakan keterangan yang telah dimiliki atau tersimpan dalam diri seseorang. Sedangkan informasi adalah keterangan yang ada dan berada di luar diri seseorang. Untuk memecahkan masalah, perancang tidak perlu menempuh semua cara yang ada, tetapi cukup dengan melakukan pengkajian. Pengkajian tersebut terdapat beberapa  tingakatan, yaitu tingkat sederhana sampai tingkat penyelesaian akhir.

  1. B.  PENGKAJIAN PEKERJAAN
  2. 1.    Pengkajian Pekerjaan dalam Perencanaan Pengajaran

Pengkajian pekerjaan merupakan bagian dari sistem proses desain pengajaran yang berfungsi sebagai alat (tool) bantu bagi perancang untuk merumuskan tujuan-tujuan pengajaran.

  1. 2.    Struktur Pekerjaan

Adapun struktur pekerjaan terdiri dari pekerjaan-tugas-tugas kerja-subtugas kerja-langkah-langkah.

3. Tugas

Tugas adalah suatu kecil tingkah laku (performance), yang mempunyai perangsang khusus yang dapat diidentifikasi kapan mulai terjadinya, yang mencakup serangakaian tindakan yang berkaitan satu dengan lainnya.

  1. 4.    Okupasi (kelompok Okupasi)

Suatu okupasi atau kelompok okupasi adalah suatu kelompok pekerjaan yang berkaitan antara satu dengan yang lain (cluster job), yang memuat beberapa tugas yang sama atau umum dan menuntut pengetahuan dan keterampilan yang sama terhadap pelakunya.

  1. 5.    Pengkajian dan Sintesis Pekerjaan

Tujuannya adalah untuk menentukan apa yang dilibatkan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan tertentu. Komponen produk, pengkajian produk atau sintesis pekerjaan dapat disajikan pada dua tingkat yang terinci, yaitu sebagai berikut:

  1. Tingkat deskripsi pekerjaan
  2. Spesifikasi pekerjaan atau perincian tugas
  3. 6.    Deskripsi Pekerjaan (Job Description)

Yaitu suatu dokumen yang menerangkan secara jelas dan tepat tentang kerakteristik utama suatu pekerjaan tertentu, yang bertujuan untuk yang berikut ini:

  1. Menyediakan informasi bagi calon-calon pekerja tingkat keahlian tertentu
  2. Menentukan kedudukan pekerjaan dalam suatu organisasi serta gaji dan keuntungan dan garis tanggung jawab
  3. Menjadi dasar untuk mempersiapkan sumber bacaan dalam rangka rekrutmen
  4. Menjadi dasar untuk merancang kriteria seleksi
  5. Menjadi dasar untuk merancang latihan dan pengembangan staf.

Suatu deskripsi pekerjaan disusun dalam format berikut:

  1. Judul pekerjaan informasi lainnya
  2. Fungsi atau maksud pekerjaan
  3. Di mana dan kapan pelaksanaannya
  4. Tanggung jawab dan tugas-tugas lengkap yang memuat komposisi tugas
  5. Daftar tugas lengkap yang memuat komposisi tugas
  6. Daftar atribut yang dimintakan dalam aspek-aaspek jasmani, mental, dan pribadi
  7. 7.    Spesifikasi Pekerjaan atau Daftar Tugas

Suatu spesifikasi pekerjaan (untuk maksud-maksud yang berhubungan dengan latihan) terdiri dari suatu daftar tugas yang membentuk pekerjaan atau pekerjaan yang kompleks, bersama-sama denagn informasi lainnya yang membantu dalam membuat keputusan.

 

  1. 8.    Langkah-langkah Pokok dalam Mengkaji Pekerjaan

Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalm mengkaji pekerjaan, adalah sebagai berikut:

  1. Memeriksa dan menyetujui kerangka acuan bersama antara pimpinan dan bawahan,
  2. Periksa dan pelajari dokumentasi yang berkanaan dengan pekerjaan, meliputi manual, ukuran-ukuran, sumber bacaan.
  3. Mendaftar siapa saja yang terlibat dalam pekerjaan itu.
  4. Berdasarkan ketiga langkah di atas, selanjutnya diadakan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pekerjaan.
  5. Menyusun suatu deskripsi pekerjaan sementara (draf), lalu mengadakan observasi terhadap pelaksanaan pekerjaan itu di tempat lain.
  6. Jika misalnya masih ada kecocokan, maka adakan diskusi ulang dengan para pelaksana pekerjaan
  7. Jika telah diadakan pengkajian mengenai ketidakcocokan dan perbedaan dengan ukuran-ukuran, selanjutnya memecahkan serta menyusun deskripsi dan spesifikasi pekerjaan dalam bentuk final.
  8. 9.    Teknik-teknik Lain Pekerjaan

Ada tiga teknik untuk mengkaji pekerjaan. Pertama, teknik mengajukan pertanyaan. Kedua, teknik pengumpulan data diri dari para manajer, supervisor, dan para ahli. Ketiga, teknik pengumpulan data dari para pelaksana.

  1. C.  PENGAKAJIAN MATA AJARAN (SUBJECT ANALYSIS)

Proses perencanaan pengajaran merupakan suatu lingkaran kegiatan. Ada yang bertitik tolak dari kegiatan-kegiatan keterampilan informasi yang hendak dikomunikasikan (suatu mata ajaran).

  1. peta Topik atau Jaringan Kerja (Network)

Teknik ini bertujuan untuk menggambarkan hubungan-hubungan antara banyak unsur yang terdapat di dalam suatu mata ajaran.

  1. Model Konseptual

Pendekatan dengan model konseptual pada dasarnya sama dengan teknik jaringan kerja (pemetaan topik). Perbedaannya terletak pada hubungan-hubungan yang ada dirangkaikan sebagai suatu model yang mengandung makna tertentu yang tersusun dalam kategori-kategori jenis hubungan dengan notasi penyajian, serta adanya aturan-aturan yang mengatur organisasi dan penyajian visual

  1. Teknik Diagram Venn

Digunakan untuk menggambarkan komposisi dan interelasi himpunan-himpunan dan merupakan alat yang penting untuk mengkaji mata ajaran, serta untuk mengkomunikasikan struktur mata ajaran.

 

  1. D.  JARINGAN KERJA SILABI (SYLABI NETWORK ATAU PERT CHARTS)

Proses mempersiapkan jaringan kerja adalah:

  1. Menunjukkan urutan dan hubungan-hubungan logis antara topik-topik dalam mata ajaran.
  2. Menunjukkan macam-macam jalur dan urutan dalam rangka mempelajari mata ajaran tersebut.
  3. Menunjukkan topik-topik yang berhubungan.
  4. Menunjukkan topik-topik yang perlu dihilangkan dan untuk memperbaiki urutannya.
  5. E.  PENGKAJIAN TUGAS
  6. Deskripsi Tugas

Ada dua macam tugas, yakni tugas-tugas tundakan (action tasks) dan tugas-tugas kognitif (cognitive tasks). Tugas-tugas tindakan adalah yang dapat diamati dan melibatkan interaksi antara seseorang dan suatu objek atau antara orang dan orang lain.

  1. Tugas-Tugas Tindakan

Konsep suatu tugas tindakan mencakup tiga atribut utama, yakni:

1)   Suatu interaksi antara orang dengan orang atau objek,

2)   Yang dapat mengalami perubahan, dan

3)   Dimaksudkan untuk mencapai beberapa tujuan.

  1. Empat Jenis Informasi yang Terdapat dalam Deskripsi Tugas Tindakan

Tiap tugas mengandung empat aspek, sedangkan tiap aspek mengandung informasi tertentu, yaitu sebagai berikut:

1)   Deskripsi tugas berisi informasi tentang tindakan-tindakan yang berbeda-beda yang dilakukan untuk mencapai tujuan.

2)   Tindakan-tindakan diawali oleh tanda-tanda yang memberi petunjuk apakah dapat dilakukan tindakan-tindakan berikutnya.

3)   Setiap tindakan diikuti oleh beberapa bentuk balikan.

4)   Deskripsi tugas tindakan meliputi informasi tentang orang atau objek yang melakukan tindakan itu.

  1. Jenis-jenis Tugas Tindakan

Banyak tugas yang menuntut urutan tindakan yang tertentu dan dapat diramalkan. Misalnya berpikir algoritmik, yaitu menurut Webster adalah suatu aturan atau prosedur untuk memecahkan masalah yang sedang kita hadapi berdasarkan urutan algoritmik tersebut.

  1. Urutan Tugas Tindakan yang Beraneka Ragam
  2. Penentuan Tugas-tugas Kognitif

Banyak tugas yang dilakukan pada tingkat kognitif, bukan dengan tindakan yang bersifat fisik (overta action). Misalnya memutuskan/membuat keputusan, membedakan, memecahkan, dan sebagainya.

  1. Pengumpulan Informasi Tentang Tugas

Untuk menyusun deskripsi tugas, perancang sistem perlu belajar sejumlah informasi tentang bagaimana tugas-tugas dilakukan. Ada tiga metode yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan tugas, yakni sebagai berikut:

  1. Pertama, Wawancara Perorangan dan Kelompok
  2. Kedua, Observasi Langsung
  3. Ketiga, Manual Teknik
  4. Kebutuhan Penyusunan Suatu Deskripsi Tugas

Deskripsi tugas membantu perancang sistem pengajaran untuk mengidentifikasi tujuan yang hendak dicapai dalam rangka mencapai tujuan-tujuan terminal.

  1. Diagram Arus Urutan Tugas yang Menetap

Diagram arus adalah alat untuk menyajikan urutan tugas yang menetap (fixed) dalam bentuk yang skematik atau diagramatik.

  1. Struktur Diagram Arus

Penggunaan bentuk simbol bergantung pada fungsi yang dilakukan.

.

  1. Hubungan Antara Tujuan dan Deskripsi Tugas

Tujuan-tujuan tingkah laku menuju pada apa yang dapat dikerjakan oleh siswa setelah menempuh suatu pelajaran. Jadi, tujuan sekaligus mengandung dua hal, yakni kondisi tempat suatu tingkah laku akan dilakukan, dan ukuran (standar) untuk menilai tingkah laku tersebut.

  1. Kriteria Menilai Deskripsi Tugas

1)   Deskripsi tugas harus lengkap. Setiap langkah di dalam tugas harus ada tersirat di dalamnya.

2)   Hindarkan kata-kata atau ungkapan yang dapat menimbulkan sirat, atau tafsiran yang berbeda-beda.

3)   Tugas memiliki konsistensi internal, tidak menuntut seseorang agar melakukan dua hal yang berbeda pada waktu yang sama.

  1. F.   PENGKAJIAN TOPIK

Ada dua jalur yang dapt ditempuh dalam usaha mengkaji topik, yakni jalur output/input, dan jalur kedua yang tergolong pendekatan tradisional, yakni dengan cara merumuskan topik, isi, contoh-contoh (informasi), dan diakhiri dengan perumusan instrumen tes.  Akan tetapi kedua jalur tersebut dikombinasikan menjadi prosedur sbb:

1)   Memilih suatu topik yang bermakna bagi pengajaran.

2)   Menganalisisnya untuk mengidentifikasi unsur-unsur informasi yang penting (konsep, hukum, prosedur).

3)   Menata informasi dalam seperangkat kalimat yang singkat dengan arus tertentu.

4)   Sesuaikan dengan tujuan-tujuan umum pengajaran topik tersebut,

5)   Gunakan kategori taksonomi Bloom untuk menempatkan unsur-unsur informasi dalam rangka pengujian.

6)   Kembangkan item tes yang selaras dengan unsur-unsur informasi tersebut.

7)   Berdasarkan langkah pada butir 6 tersebut, selanjutnya disusunlah suatu tes akhir.

8)   Berdasarkan item tes yang telah dibuat pada langkah 6 di atas, lalu adakan studi mengenai pengetahuan dan ketrampilan apa yang diperlukan sebagai prerequisite dan susunlah suatu tes awal (entry test).

9)   Kombinasikan penyajian logis dengan item tes untuk mengembangkan urutan instruksional.

analis jalur output/input, dengan menggunakan jenjang prerequisite, berdasarkan teknik Cagne mengenai tujuan, prosedurnya adalah sebagai berikut:

  1. Memilih suatu topik
  2. Transformasikan menjadi suatu tugas (tugas terminal).
  3. Menghasilkan item tes akhir untuk mengukur tujuan.
  4. Menganalisis tujuan menjadi prerequisite berjenjang.
  5. Menghasilkan item tes untuk mengukur setiap subtujuan  (intermediate test).
  6. Mengidentifikasikan tingkah laku awal (entery level) dan menghasilkan tes awal.
  7. Menyusun tujuan-tujuan menjadi urutan belajar yang logis.
  8. Memilih contoh-contoh dan informasi yang relevan dengan topik.
  9. Selanjutnya mengembankan urutan instruksional.

BAB V

Tujuan Pengajaran

  1. A.  Konsep Tujuan Pengajaran

Suatu tujuan pengajaran adalah sejumlah hasil pengajaran yang dinyatakan dalam artian siswa belajar, yang secara umum mencakup pengetahuan baru, ketrampilan dan kecakapan, serta sikap-sikap yang baru, yang diharapkan oleh guru dicapai oleh siswa sebagai hasil pengajaran. Antara tujuan pengajaran (instructional goals) dan tujuan belajar (learning objectives) ada perbedaan, tetapi memiliki hubungan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnyaMenurut Mager, tujuan instruksional seharusnya mengandung tiga komponen utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Tingkah laku (behavior): untuk menspesifikasikan apa yang akan kita amati dan akan diukur.
  2. Standar (standar): yang memungkinkan kita untk menilai dampak dari belajar.
  3. Kondisi luar (external conditions): untuk meyakinkan bahwa perilaku yang diperoleh benar-benar disebabkan oleh kegiatan belajar, bukan karena sebab-sebab lainnya.
    1. B.  Komponen-Komponen Tujuan Pengajaran

Suatu tujuan pengajaran, terdiri dari tiga komponen, yaitu:

  1. Tingkah Laku Terminal
  2. Kondisi-Kondisi Tes
  3. Standar (Ukuran)
    1. C.  Kegunaan Tujuan Pengajaran

Secara khusus, tujuan penagjaran penting dalam rangka:

  1. Untuk menilai pengajaran dalam arti bahwa pengajaran dinilai berhasil apabila siswa telah menacapai tujuan yang telah ditentukan.
  2. Untuk membimbing siswa belajar.
  3. Merupakan kriteria untuk merancang pelajaran.
  4. Menjadi semacam media untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan guru lainnya.
  5. D.  Klasifikasi Tujuan Pendidikan
  6. Pendekatan untuk Mengklasifikasikan Tujuan Pendidikan

Dalam mengklasifikasikan tujuan pendidikan terdapat tiga pendekatan yang digunakan yaitu:

1)    Imediasi, yaitu janga panjang atau langsung.

2)      Tipe performance, yaitu kognitif atau afektif atau psikomotorik.

3)      Sumber, yaitu keterampilan kehidupan dan metodologis isi (content).

  1. Klasifikasi Ini Berguna dalam Mendesain dan Menata Urutan Kurikulum

Pendekatan tipe performance, klasifikasi ini biasanya mengkombinasikan seperangkat aturan (taksonomi), metode mengajar, instrumen tes, dengan tujuan yang terdiri dari:

  • Tujuan-tujuan kognitif – berbuat dengan berfikir.
  • Tujuan-tujuan afektif – berbuat dengan perasaan.
  • Tujuan-tujuan psikomotor – berbuat dengan berbuat.
  1. Taksonomi Tujuan Pendidikan

Perumusan tujuan pendidikan dan tujuan-tujuan kurikulum bertitik tolak dari tingkah laku dan bersifat operasional. Tujuan-tujuan pendidikan satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Klasifikasi tujuan itu dijadikan pedoman dalam merumuskan tujuan suatu bidang studi, misalnya sejarah. Domain-domain kognitif, afektif, psikomotor, dan bidang-bidang studi, misalnya dalam bidnag studi IPS “Berkoperasi”.

  1. Tujuan-Tujuan dalam Matra Kognitif

Tujuan-tujuan kognitif sebgaimana telah diklasifikasikan oleh Bloom, pada garis besarnya dapat dideskripsikan sebgai berikut:

  1. Pengetahuan
  2. Pemahaman.
  3. Penerapan.
  4. Analisis (pengkajian.
  5. Sintesis.
  6. Evaluasi
  7. Tujuan-Tujuan dalam Matra Afektif

Deskripsi tujuan afektif yang merupakan bagian dari taksonomi Bloom, sebgai berikut:

  1. Penerimaan (receiving).

b. Merespons (responding).

  1. Menghargai (valuing)
    1. E.  Tingkat-Tingkat Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan tersusun menurut tingkat-tingkat tertentu, mulai dari tujuan yang sangat luas dan umum sampai tujuan-tujuan yang spesifik.

  1. Tujuan Pendidikan Nasional
  2. Tujuan Institusional
  3. Tujuan Kurikuler
  4. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
  5. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
  6. F.   Merumuskan Tujuan Tingkah Laku

Menurut Mager, suatu tujuan tingkah laku adalah sebagai berikut:

  1. Suatu pernyataan tentan apa yang harus siswa dapat lakukan setelah atau pada akhir pertemuan belajar.
  2. Kondisi-kondisi di mana dia harus memepertunjukkan tingkah lakuterminal (terminal behavior).
  3. Ukuran atau standar di mana dia harus dapat lakukan (kriteria).

G. Teknik Merumuskan Tujuan Pengajaran

Ada lima langkah yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan belajar mengajar, yaitu sebgai berikut:

  1. Merumuskan Tujuan Umum
  2. Merumuskan Suatu Situasi Acuan
  3. Merumuskan Suatu Tes Situasi Acuan
  4. Menulis Tujuan Belajar Mengajar
  5. Menulis Btas yang Lebih Rendah tentang Stabilitas Perilaku Petunjuk.

 

BAB VI

BAHAN PENGAJARAN

   Bahan pengajaran adalah bagian integral dalam kurikulum sebagaiana yang telah ditentukan dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran.

  1. A.  Pendekatan untuk mengeksplorasi isi kurikulum

Dalam hubungan ini ada empat kategori pendekatan yang dapat kita pertimbangkan :

  1. Pendekatan kultural (Kultur Nasional)
  2. Pendekatan Multidimensional
  3. Pendekatan Manajerial
  4. Pendekatan Profesional
    1. B.  Identifikasi Bahan Pengajaran

Bahan pengajaran merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar, yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar mengajar yang berkaitan dengan ketercapaian tujuan pengajaran, serta menentukan kegiatan-kegiatan belajar mengajar. Hal itu sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

  1. Kedudukan Materi Pengajaran.
  2. Peta Pengetahuan
  3. Peta Keterampilan

BAB VII

Prosedur dan Pengajaran

  1. A.  Belajar dan Motivasi

Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman melalui sistem penilaian yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa ,yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan.Masalah pokok yang dihadapi mengenai belajar adalah bahwa proses belajar tidak dapat diamati secara langsung dan kesulitan untuk menentukan kepada terjadinya perubahan tingkah laku belajarnya. .

  1. B.  Pengajaran dan Konsep
  2. Konsep dan Prinsip

Konsep dan prinsip adalah dua istilah yang berbeda artinya, tetapi erat kaitannya antara yang satu dengan yang lainnya. Konsep adalah suatu kelas stimulu yang memiliki sifat – sifat (atribut – atribut ) umum. Konsep adalah suatu kelas atau kategori stimuli yang memiliki ciri umum. Stilmuli adalah objek – objek atau orang (person). Konsep adalah suatu yang sangat luas. Atribut konsep adalah suatu sifat yang membedakan antara konsep satu dengan konsep lainnya. Jumlah atribut juga bermacam  macam antara satu konsep dengan konsep lainnya. Kedominanan atribut,menunjuk pada kenyataan bahwa beberapa atribut lebih dominan (obvious) daripada yang lainnya.

  1. C.  Pengajaran Prinsip

Prinsip merupakan kombinasi konsep – konsep, bukan penjumlahan beberapa konsep yang dikaitkan dalam suatu kalimat. Pengajaran prinsip dilaksanakan dengan langkah – langkah sebagai berikut:

  • Langkah ke-1 menetapkan perilaku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah mempelajari prinsip.
  • Langkah ke-2 menetapkan dan menunjukan konsep atau prinsip mana yang harus diungkapkan kembali untuk mempelajari prinsip baru.
  • Langkah ke-3 membantu siswa untuk mengungkapkan kembali penguasaan prerequisite pengalaman apersepsi yang telah dimiliki oleh siswa mengenai konsep.
  • Langkah ke-4 membantu siswa mengkombinasikan dan menyusun konsep – konsep menjadi suatu prinsip.
  • Langkah ke – 5 memberikan latihan pengembangan prinsip dan penguatan sambutan  – sambutan siswa.
  • Langkah ke – 6 menilai belajar prinsip.
  1. D.  Pengajaran dan Keterampilan

Pengertian keterampilan motorik adalah serangkaian gerakan otot untuk menyelesaikan tugas dengan berhasil.  Bahwa suatu keterampilan sesuungguhnya adalah keseluruhan pola respon. Rangkaian respon yang koheren tergantung pada respons – respons bertahap yakni derajat lisensinya. Mempelajari keterampilan terutama keterampilan yang kompleks melalui tiga tahap, yaitu kognitif, fiksasi, dan autonomous. Tahap kognitif siswa berusaha mengintelektualisasikan keterampilan yang akan dilakukan. Prosedur mengajarkan keterampilan dilaksanakan melalui langkah – langkah berikut.

  • Langkah ke-1 telaah keterampilan.
  • Langkah ke-2 menilai tingkah laku dasar siswa
  • Langkah ke-3 mengembangkan latihan dalam komponen unit keterampilan atau abilitas keterampilan
  • Langkah ke-4 menentukan dan mempertunjukan keterampilan bagi siswa.
  • Langkah ke-5 menyediakan tiga kondisi belajar yang mendasar.
  1. E.  Pengajaran Kreativitas

Kreativitas merupakan suatu bentuk dan proses pemecah masalah. Prosedur mengemvangkan kreativitas sebagai berikut :

  •   Langkah ke-1 mengklasifikasikan jenis masalah yang akan disajikan kepada siswa.
  • Langkah ke-2 mengembangkan dan menggunakan keterampilan-keterampilan pemecah masalah.
  • Langkah ke-3 ganjaran bagi prestasi belajar kreatif.

 

BAB VIII

Strategi pengajaran dan media pengajaran

Secara teoritik pandangan mengenai proses belajar mengajar saling bertentangan satu dengan yang lainnya.

  1. belajar penerimaan (reception learning)
  2. belajar penemuan ( discovery learning)

Langkah-langkah belajar proses informasi adalah sebagai berikut:

  1. penerimaan yang berkenaan dengan prinsip-prinsip umum
  2. pemahaman terhadap prinsip umum
  3. partikularisasi
  4. tindakan

Langkah-langkah pokok strategi ekpositif adalah sebagai berikut:

  1. penyajian informasi diberikan secara simbolik
  2. tes terhadap resepsi,ungkapan,dan pemahaman
  3. menyajikan kesempatan-kesempatan untuk menerapkan prinsip umum sebagai latihan dengan suatu contoh tertentu
  4. menyajikan kesempatan-kesempatan untuk penerapan kedalam situasi senyatanya informasi yang baru saja diberikan

Langkah-langkah pokok strategi discovery adalah sebagai berikut:

  1. menyajikan kesempatan-kesempatan untuk bertindak
  2. tes terhadap pemahaman tentang hubungsn sebab akibat
  3. memoertanyakan atau mengamati kegiatan selanjutnya
  4. penyajian kesempatan-kesempatan guna menerapkan hal baru.

 

  1. A.  PENGAJARAN EKSPOSISTIF ( EXPOSITIVE CLASSROOM INSTRUCTION )

Pengajaran kelas dapat berpedoman pada bermacam ragam strategi dan takti. Prosedurnya bergantung pada keterlibatan guru ( instruktur ), tujuan, besarnya kelompok, dan banyaknya factor lainnya. Ada dua metode dasar yang dapat dipertimbangkan, satu sama lain saling berlawanan, yakni system satu arah ( teacher modification system ).

  1. 1.    Sistem satu arah
  2. 2.    Sistem dua arah  (sistem modifikasi guru)

 

  1. B.  PENGAJARAN DISCOVERY DALAM KELAS

Pendekatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk:

  1. komunikasi satu arah atau
  2. komunikasi dua arah, bergantung pada besarnya kelas.

 

  1. C.  TEKNIK PENGAJARAN KELOMPOK KECIL

Untuk kelompok kecilyang terdiri atas 10 orang siswa atau kurang, akan lebih mudah melakukan komunikasi dua arah secara efektif. Banyak teknik yang dapat dikembangkan dalam kegiatan belajar kelompok kecil. Akan tetapi, untuk maksud-maksud umum, di sini hanya dikemukakan beberapa saja, antara lain:

1 . Tutorial Individual ( TI )

  1. Tutorial kelompok ( TK )
  2. Seminar ( S )
  3. Lokakarya ( Workshop )
  4. Teknik klinis ( TK )
  5. Diskusi Kelompok Terbuka ( DKT )

D. SISTEM BELAJAR SISWA TERBIMBING

Guru bertindak sebagai penasihat bagi siswa mengenai apa dan bagaiamana belajar, tetapi keputusan akhir ditentukan oleh siswa sendiri

Sistem belajar berdasarkan sumber ( SBBS )

Siswa memilih sendiri sumber mana yang akan dipelajari, metode apa yang akan digunakan, serta media apa yang diperlukan. Para siswa memilih dan bekerja sendiri sesuai dengan sisitem sumber yang telah direncanakan sebelumnya.

  1. E.  METODE INTRUKSI SENDIRI DENGAN PROGRAMA ( PROGRAMMED SELF-INTRUCTIONAL METHODS )

Siswa belajar sendiri untuk mencapai tujuan-tujuan tinglkah laku yang menggunakan materi pelajaran yang telah dipersiapkan sebelumnyadan tidak memerlukan dukungan dari pihak guru. Program itu dikembangkan dalam berbagai bentuk:

  1. Teks program linear ( TPL )
  2. Teks program bercabang ( TPB )
  3. Teks program bentuk campuran ( TPBC )
  4. Teks semi programma ( TSP )
  5. Media yang di program

 

  1. F.   METODE LATIHAN DALM INDUSTRI ( MLDI ) ( TRAINING WITHIN INDUSTRY )

Metode ini diterapakan dalam berbagai bentuk, seperti latihan kepemimpinan, latihan keselamatan, latihan untuk perbaikan, dan latihan pengajarn tugas.

  1. Prosedur
  2. Pengajarn dengan contoh: demonstrasi, ilustrasi, modeling ( DIM )
  3. Matra kognitif
  4. Matra psikomotor
  5. Matra reaktif dan interkatif

G. TEKNIK SIMULASI

1. Simulasi dalam matra kognitif

2. Simulasi dalam matra psikomotor

3. Simulasi dalam matra reaktif

4. Simulasi dalam matra interaktif

  1. H.  METODE STUDI KASUS

Metode studi kasus merupakan suatu bentuk simulasi yang bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada para siswa tentang pembuatan keputusan mengenai apa yang harus dilakukan lebih lanjut:

  1. Penggunaan metode studi kasus paktek simulasi
  2. Anlisis hasil proses
  3. Peranan guru atau pimpinan
    1. I.     METODE BERMAIN PERANAN

Teknik simulasi yang umumnya digunakan untuk pendidikan sosial dan hubungan antarinsani, tujuan bermain peran:

1. Belajar dengan berbuat

2. Belajar melalui peniruan

3. Belajar melalui balikan

4. Belajar melalui pengkajian, penilain, dan pengulangan

  1. J.    MEDIA PENGAJARAN
    1. Tentang alat bantu pengajaran
    2. Arti media pengajaran
    3. Memilih media pengajaran
    4. Jenjang-jenjang pembuatan keputusan
    5. Pemilihan media pada jenjang pertama
    6. Pemilihan media pada jenjang kedua

 

Fungsi Guru

Guru berfungsi mengkomunikasikan informasi kepada siswa. Fungsi itu dilaksanakan dengan cara menggunakan dirinya sendiri sebagai suatu media komunikasi.

Pendekatan dalam memilih media pengajaran

Pertama, memilih media dengan menggunakan klasifikasi atau taksonomi media.

Kedua, memilih media dengan menggunakan saluran sensoris dan kontrol guru dengan menggunakan bagan sebagai alat bantu.

 

 

BAB IX

EVALUASI, KONTROL DAN PERBAIKAN

  1. A.  EVALUASI PENGAJARAN

Evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai atau asses keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu system pengajaran.

Perencanaan evaluasi

Secara umum evaluasi dimaksudkan untuk melihat sejauh mana kemajuan belajar para siswa telah tercapai dalam program pendidikan yang telah dilaksanakannya.untuk itu diperlyukan alat evaluasi yang disusun menurut langkah kerja tertentu. Beberapa pokok masalah yang perlu dipahamioleh setiap calon guru.

Fungsi dan tujuan evaluasi

  1. untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajarpara siswa.
  2.  untuk menempatkan para siswa ke dalam situasi belajar mengajar yang tepat.
  3.  mengenal latar belakang siswa.
  4. sebagai umpan balik bagi guru.

Jensi-jenis evaluasi

  1. evaluasi sumatif
  2.  evaluasi penemapatan
  3. Evaluasi diagnostic
  4. Evaluasi penilaian normative

Evaluasi pada akhir satuan pelajaran

Pada akhir pelajran guru berkewajiban memberikan penilain, dengan maksud untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalm mencapai TIK ( Tujuan intruksional khusus ) yang telah ditentukan sebelumnya.

Evaluasi pas akhir caturwulan, tahun ajaran ( EBTA ), dan keseluruhan program pengajaran

Evaluasi ini berlangsung dengan jangka panjang. Tujuan dari penilain tersebut untuk menentukan kemajuan belajar masing-masing siswa.hasil penelitian itu penting sebagai laporan kepada orang tua dan untuk menetukan kenaikan serta kelulusan siswa.

Strategi evaluasi

Masalah evaluasi erat kaitannya dengan masalah control. Pada strategi control kita merumuskan cara yang kan ditempuh untuk mengukur hasil-hasil sisitem pengajaran , sedangkan pada strategi evaluasi kita merumuskan kita merumuskan apa dan mengapa kita mengukur.

Syarat-syarat tes yang baik, dibutuhkan alat ukur yang akurat yang dapat diandalkan:

1. Validitas

2.Reliabilitas

3.Objektivitas

4.Pembedaan (diferensiasi)

5.Pertanyaan-pertanyaan evaluasi

  1. B.  TEKNIK-TEKNIK EVALUASI
  2. Teknik-teknik tindak lanjut jangka panjang,
  3. Teknik-teknik evaluasi akhir pengajaran, dilaksanakan pada akhir pengajaran yang mencakup evaluasi terhadap perilaku keterapilan dan aspek pengetahuan.
  4. Teknik evaluasi keterampilan reproduktif
  5. Teknik evaluasi keterampilan produktif
  6. Teknik-teknik untuk menilai pengetahuan
  7. Evaluasi keterampilan perilaku,
  8. Penggunaan siklus keterampilan dasar, untuk mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dalam evaluasi keterampilan seaca rinci
  9. Jenis tes yang digunakan:

a)    Tes persepsi

b)   Tes prasyarat

c)    Tes strategi

d)   Tes tindakan

e)    Tes observasi

  1. 9.    Evaluasi pengetahuan.

 

  1. C.  STRATEGI KONTROL PENGAJARAN

Tiga pertanyaan yang perlu dijawab sebagai dasar petimbangan dalam mendesain strategi control dalam kerangka system pengajaran, yaitu:

1)   Bagaimana menentukan hasil-hasil pengajarn yang telah dilaksanakan?

2)   Faktor-faktor apa yang dikontrol jika pengajaran harus dihentikan?

3)   Siapa yang membuat keputusan dan dasarnya apa, bahwa pengajaran harus dimulai,diselenggarakan dan dihentikan?

  1. D.  STRATEGI PERBAIKAN PENGAJARAN

Perbaikan pengajaran perlu mendapat perhatian guru, dengan maksud berikut:

1)    Meningkatkan hasil belajar siswa,baik kualitatif maupun kuantitatif.

2)    Membantu siswa mengatasi kesulitan dan memcahkan masalah-masalah belajar yang dihadapi oleh para siswa.

3)    Perbaikan pengajaran mengundang guru-guru untuk meningkatkan kemampuannya terus menerus.

4)    Meningkatkan mutu proses belajar mengajar agar lebih serasi dengan kondisi dan kebutuhan siswa.

5)    Mempertimbangkan lebih seksama kemampuan awal siswa sebagai bahan mentah dalam proses belajar mengajar.

 

 

 

 

 

 

CIRI-CIRI METODE PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF

Published June 26, 2013 by nilamarifani
  1. Metode Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan  dari orang-orang  dan prilaku yang dapat  diamati, demikianlah pendapat  Bogdan dan Guba,. Fraenkel danWallen menyatakan bahwa penelitian yang mengkaji kualitas hubungan, kegiatan, situasi, atau material disebut penelitian kualitatif, dengan penekanan kuat pada deskripsi menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi pada suatu kegiatan atau situasi tertentu.

 

Ciri- ciri pokok Penelitian Kualitatif :

 

  1. Naturalistic inquiry yaitu mempelajari situasi dunia nyata secara alamiah, tidak melakukan manipulasi,; terbuka pada apapun yang timbul.
  2. Inductive analysis yaitu mendalami rincian dan kekhasan data guna menemukan  kategori, dimensi, dan kesaling hubungan.
  3. Holistic perspective yaitu seluruh gejala yang dipelajari dipahami sebagai sistem yang kompleks lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannya.
  4. Qualitative data yaitu deskripsi terinci, kajian/inkuiri dilakukan secara mendalam
  5. Personal contact and insight yaitu peneliti punya hubungan langsung dan bergaul erat dengan orang-orang, situasi dan gejala yang sedang dipelajari.
  6. Dynamic systems yaitu memperhatikan proses; menganggap perubahan bersifat konstan dan terus berlangsung baik secara individu maupun budaya secara keseluruhan.
  7. Unique case orientation  yaitu menganggap setiap kasus bersifat khusus dan khas.
  8. Context Sensitivity yaitu menempatkan temuan dalam konteks sosial, historis dan waktu.
  9. Emphatic Netrality yaitu  penelitian dilakukan secara netral agar obyektif tapi bersifat empati
  10. Design flexibility yaitu desain penelitiannya bersifat fleksibel, terbuka beradaptasi sesuai perubahan yang terjadi (tidak bersifat kaku)

 

Moleong mengemukakan sebelas karakteristik penelitian kualitatif yaitu :

  1. Latar alamiah (penelitian dilakukan pada situasi alamiah dalam suatu keutuhan)
  2. Manusia sebagai alat (Manusia/peneliti merupakan alat pengumpulan data yang utama)
  3. Metode kualitatif (metode yang digunakan adalah metode kualitatif)
  4. Anslisa data secara induktif (mengacu pada temuan lapangan)
  5. Teori dari dasar/grounded theory (menuju pada arah penyusunan teori berdasarkan data)
  6. Deskriptif (data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka)
  7. Lebih mementingkan proses daripada hasil
  8. Adanya batas yang ditentukan oleh fokus (perlunya batas penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagai masalajh dalam penelitian)
  9. Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data (punya versi lain tentang validitas, reliabilitas dan obyektivitas)
  10. Desain yang bersifat sementara (desain penelitian terus berkembang sesuai dengan kenyataan lapangan)
  11. Hasil penelitiaan dirundingkan dan disepakati bersama (hassil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama antar peneliti dengan sumber data)
  1. Metode Penelitian Kuantitatif

Metode penelitian kuantitatif pada umumnya di bagi menjadi 2. Pertama, penelitian eksperimental yang dapat di pilih menjadi eksperimen kuasi, subjek, tunggal dan sebagainya. Kedua, penelitian non-eksperimental yang berupa penelitian deskriptif, historis, dan ex-post facto, dan sebagainya.

ciri –ciri metode penelitian kuantitatif

  1. Metode penelitian kuantitatif dilakukan untuk mngukur satu atau lebih variable penelitian. Lebih dari itu penelitian kuantitatif dilakukan untuk mengukur hubungan atau korelasi atau pengaruh antara dua variabel atau lebih
  2. Metode penelitian kuantitatif Permasalahan penelitiannya adalah menanyakan tentang tingkat pengaruh atau keeratan hubungan antara dua variabel atau lebih
  3. Penelitian muantitatif dilakukan untuk menguji teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti
  4. Metode penelitian kuantitatif memfungsikan teori sebagai titik tolak menemukan konsep yang terdapat dalam teori tersebut, yang kemudian dijadikan variabel.
  5. Penelitian kuantitatif menggunakan hipotesis sejak awal ketika peneliti telah menetapkan teori yang digunakan.
  6. Penelitian kuantitatif lebih mengutamakan teknik pengumpulan data kuesioner.
  7. Penelitian kuantitatif penyajian datanya berupa table distribusi pilihan jawaban para responden yang ditentukan oleh peneliti berupa angka.
  8. Penelitian kuantitatif menggunakan prespektif etik, yaitu data yang dikumpulkan dibatasi atau ditentukan oleh peneliti dalam hal pilihan indicator atau atribut variabel bai jumlah maupun jenisnya.
  9. Metode penelitian kuantitatif menggunakan definisi operasionalisasi kerana hendak mengukur variabel, karena definisi operasional pada dasarna merupakan petunjuk untuk mengukur variabel
  10. Penelitian kuantitatif penentu ukuran jumlah responden atau sampel dengan menggunakan presentase, rumus atau table populasi-sampel, sebagai penerapan prinip keterwakilan.
  11. Peneliti kuantitatif menggunakan alur penarikan kesimpulan berproses secara deduktif, yaitu konsep, variabel ke data.
  12. Metode penelitian kuantitatif instrument penelitiannya berupa kuesioner atau angket, yang juga berfungsi sebagai teknik pengumpulan data
  13. Analisis yang digunakan dalam penelitian kuantitatif dilakukan setelah data terkumpul, dengan menggunakan perhitungan angka-angka atau analisis statistic.
  14. Penelitian kuantitatif kesimpulannya berupa timgkat hubungan antar variabel, sedangkan dalam penelitian kualitatif kesimpulannya berupa temuan konsep yang tersembunyi di balik data rinci berdasarkan interpretasi atau kesepakatan dari para responden atau informan.

 

 

PROSES MANAJEMEN

Published June 26, 2013 by nilamarifani

Proses Manajemen

  1. Pengantar

Manajemen sebagai suatu rangkaian kegiatan yang di lakukan oleh seorang manajer, dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan organisasi sekolah dapat di jabarkan memlalui proses yang harus di lakukan berdasarkan tahapan-tahapan tertentu. Dalam prakteknya pembagian proses ini tidak dapat di bedakan secara tegas dan tajam, karena setiap manajer dalam setiap usaha atau aktivitas pencapaian tujuan harus melaksanakan semua proses manajemen, hanya penekanannya yang berbeda. Setiap manajer sekolah dalam pelaksanaan tugasnya, aktivitasnya dan kepemimpinannya untuk mencapai tujuan harus melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian dengan baik.

 

  1. Tujuan pembelajaran

Setelah menyelesaikan bab ini, anda diharapkan dapat :

1.Menjelaskan proses manajemen yang harus di lakukan dalam pencapaian tujuan organisasi sekolah

2.Menjelaskan pengertian perencanaan

3.Menjelaskan pengertian pengorganisasian

4.Menjelaskan pengertian penggerakan

5.Menjelaskan pengertian pengendalian

 

  1. Materi pembelajaran

Seorang manajer sekolah dalam pencapaian tujuan sekolah melakukan serangkaian aktivitas  yang saling berhubungan dan memiliki peningkatan atau jenjang tertentu, dalam hal ini yang di maksud dengan proses. Proses manajemen yang bersifat mendasar adalah sebagaimana yang di kemukakan oleh Terry (1990 : 15) yaitu meliputi : (a) planning (b) organizing,  (c) actuating, dan  (d) controlling . substansi dari masing-masing proses tersebut dapat di simak dari penjelasan di bawah ini :

 

  1. 1.      Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak di capai dan menetapkan jalan serta sumber yang untuk mencapai  tujuan itu seefektif dan seefisien mungkin ( Kauffman, 1972 :38).  Dalam setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang meskipun dapat di bedakan tetapi tidak dapat di pisahkan. Kegiatan di maksud meliputi : (a) perumusan tujuan yang ingin di capai ; (b) pemilihan program untuk mencapai tujuan itu ; dan (c) identifikasi dan pengerahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas ( Fattah , 1996 : 49 ). Arti penting perencanaan  terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan:

a)      membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan

b)      membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama

c)      memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran

d)     membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat

e)      memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi

f)       memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi

g)      membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami

h)      meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti

i)        menghemat waktu, usaha dan dana.

Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu :

1.Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : (a) menggunakan kata-kata yang sederhana, (b) mempunyai sifat fleksibel, (c) mempunyai sifat stabilitas, (d) ada dalam perimbangan sumber daya, dan (e) meliputi semua tindakan yang diperlukan.

2.Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.

3. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.

Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a) menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c) mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Pada bagian lain, Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu :

  1. rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka panjang
  2.  rencana strategis merupakan rencana yang disusun guna menentukan tujuan-tujuan           kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan mempunyai dimensi jangka panjang
  3. rencana operasional yang merupakan rencana kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek     guna menopang pencapaian tujuan jangka panjang, baik dalam perencanaan global maupun        perencanaan strategis.

Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi yang sangat pesat, pekerjaan manajerial yang semakin kompleks, dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya.
Pada bagian lain, T. Hani Handoko memaparkan secara ringkas tentang langkah-langkah dalam penyusunan perencanaan strategik, sebagai berikut:

  1. Penentuan misi dan tujuan, yang mencakup pernyataan umum tentang misi, falsafah dan tujuan. Perumusan misi dan tujuan ini merupakan tanggung jawab kunci manajer puncak. Perumusan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dibawakan manajer. Nilai-nilai ini dapat mencakup masalah-masalah sosial dan etika, atau masalah-masalah umum seperti macam produk atau jasa yang akan diproduksi atau cara pengoperasian perusahaan.
  2. Pengembangan profil perusahaan, yang mencerminkan kondisi internal dan kemampuan perusahaan dan merupakan hasil analisis internal untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi sekarang, serta memerinci kuantitas dan kualitas sumber daya -sumber daya perusahaan yang tersedia. Profil perusahaan menunjukkan kesuksesan perusahaan di masa lalu dan kemampuannya untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai implementasi strategi dalam pencapaian tujuan di masa yang akan datang.
  3. Analisa lingkungan eksternal, dengan maksud untuk mengidentifikasi cara-cara dan dalam apa perubahan-perubahan lingkungan dapat mempengaruhi organisasi. Disamping itu, perusahaan perlu mengidentifikasi lingkungan lebih khusus, seperti para penyedia, pasar organisasi, para pesaing, pasar tenaga kerja dan lembaga-lembaga keuangan, di mana kekuatan-kekuatan ini akan mempengaruhi secara langsung operasi perusahaan.

Meski pendapat di atas lebih menggambarkan perencanaan strategik dalam konteks bisnis, namun secara esensial konsep perencanaan strategik ini dapat diterapkan pula dalam konteks pendidikan, khususnya pada tingkat persekolahan, karena memang pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, sehingga membutuhkan perencanaan yang benar-benar dapat menjamin sustanabilitas pendidikan itu sendiri.

  1. 2.       Pengorganisasian (Organizing)

Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing). George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”. Dari pendapat di tersebut, dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya. Berkenaan dengan pengorganisasian ini, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi, diantaranya adalah:

  • organisasi harus profesional, yaitu dengan pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan
  • pengelompokan satuan kerja harus menggambarkan pembagian kerja
  • organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab
  • organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol
  • organisasi harus mengandung kesatuan perintah
  • organisasi harus fleksibel dan seimbang.

Ernest Dale seperti dikutip oleh T. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam  proses pengorganisasian, yaitu :

a)      pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi;

b)      pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan   oleh satu orang; dan

c)      pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.

 

  1. 3.     Penggerakan (Actuating)

Penggerakan ( Actuating ) merupakan fungsi fundamental dalam manajemen. Diakui bahwa usaha-usaha perencanaan dan pengorganisasian bersifat vital, tetapi tidak akan ada output kongkrit yang dihasilkan tanpa ditindaklanjuti kegiatan untuk menggerakan anggota organisasi untuk melakukan tindakan. Penggerakan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan usaha, cara, teknik, dan metode untuk mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerja dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien, efektif, dan ekonomis (Siagian, 1992:128); Sedangkan Terry (1990:313) Menyatakan bahwa actuating merupakan usaha untuk menggerakan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa sehingga berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi.

Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Dalam hal ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pelaksanan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :

  1. merasa yakin akan mampu mengerjakan
  2.  yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya
  3. tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau mendesak
  4. tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.

 

  1. 4.     Pengawasan (Controlling)

Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan.

  1. Penertian dan proses dasar pengawasan

Titik tolak yang digunakan dalam membahas pengawasan sebagai salah satu fungsi organik manajemen ialah definisi yang mengatakan bahwa pengawasan merupakan “ proses pengamatan dari seluruh kegiatan organisasi guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya”.  Sebagai fungsi organik, pengawasan merupakan salah satu tugas yang mutlak diselenggarakan oleh semua orang yang menduduki jabatan manajer, mulai dari manajer puncak hingga para manajer rendah yang secara langsung mengendalikan kegiatan-kegiatan teknik yang diselenggarakan oleh semua petugas operasional. Proses dasar pengawasan terdiri atas tiga tahap yaitu :

  1. Penentuan standar hasil kerja

Standar hasil pekerjaan merupakan hal yang amat penting ditentukan karena terhadap standar itulah hasil pekerjaan dihadapkan dan diuji. Tanpa standar yang ditetapkan secara rasional dan objektif manajer  dan para pelaksana tidak akan mempunyai kriteria terhadap mana hasil pekerjaan dibandingkan sehingga dapat mengatakan bahwa hasil yan g dicapai memenuhi tuntutan rencana atau tidak.

  1. Pengukuran hasil pekerjaan

Pengukuran prestasi kerja terdiri dari dua jenis, yaitu yang relatif mudah dan yang sukar. Ada berbagai orestasi kerja yang relatif mudah diukur karena standar yang harus dipenuhipun bersifat konkrit. pengukuran yang relatif mudah itu biasanya berlaku bagi prestasi kerja yang hasilnya konkrit dan pekerjaan yang dilakukanpun biasanya bersifat teknis. Yang kedua adalah pengukuran yang relatif sukar dilakukan karena standar yang harus dipenuhipun tidak selalu dapat dinyatakan secara konkrit. Misalnya, jumlah keputusan yang diambil seorang pengambil keputusan tidak identik dengan efektifitas kepemimpinan seseorang.

  1. Koreksi terhadap penyimpangan yang mungkin terjadi

Meskipun bersifat sementara tindakan korektif terhadap gejala penyimpangan, penyelewengan, dan pemborosan harus bisa diambil. Misalnya, apabila menurut pengamatan selesai proses produksi akan lebih lama dibandingkan dengan jangka waktu yang telah ditetapkan dalam rencana, manajer penanggung jawab kegiatan tersebut harus dapat mengambil tindakan segera, umpamanya dengan menambah orang, memperbaiki mekanisme kerja dan tindakan lain yang sejenis.

  1. Pengawasan yang Efektif

Pengawasan yang efektif harus melibatkan semua tingkat manajer dari tingkat atas

sampai tingkat bawah, dan kelompok-kelompok kerja. Konsep pengawasan efektif

mengacu kepada pengawasan mutu terpadu atau Total Quality Control (TQC). Beberapa

kondisi yang harus diperhatikan untuk mewujudkan pengawasan yang efektif, yaitu

sebagai berikut :

  1. Pengawasan harus dikaitkan dengan tujuan dan kriteria yang dipergunakan dalam sistem pendidikan, yaitu relevansi, efektivitas, efisiensi, dan produktivitas.
  2. Sekalipun sulit tetapi standar yang masih dapat dicapai harus ditentukan. Ada dua tujuan pokok yaitu : untuk memotivasi dan untuk dijadikan patokan guna membandingkan dengan prestasi.
  3. Pengawasan hendaknya disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan organanisasi. Disini perlu diperhatikan pola dan tata organisasi, seperti susunan, peraturan, kewenangan, dan tugas-tugas yang telah digariskan dalam uraian tugas  (job description).
  4. Frekuensi pengawasan harus dibatasi ( pengawasan terhadap karyawan terlampau sering ada kecenderungan mereka kehilangan otonominya dan dapat dipersepsi pengawasan itu terhadap pengekangan ).
  5. Sistem pengawasan harus dikemudi ( steering control ). Tanpa mengorbankan otonomi dan kehormatan manajerial tetapi fleksibel, artinya sistem pengawasan menunjukkan kapan, dan dimana tindakan korektif harus diambil. Masalahnya pengawasan mempunyai implikasi motivasional dan emosional yang berhubungan dengan konsekuensi fungsional dan disfungsional.
  6. Pengawasan hendaknya mengacu pada prosedur pemecahan masalah, yaitu : menemukan masalah, menemukan penyebab, membuat rancangan penanggulangan, melakukan perbaikan, mengecek hasil perbaikan, dan mencegah timbulnya masalah yang serupa.

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 488 other followers

%d bloggers like this: